Trump Ancam Aksi Militer ke Kolombia Usai Penangkapan Maduro, Regional Amerika Latin Tegang
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah mengancam kemungkinan aksi militer terhadap Kolombia, hanya beberapa hari setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi mendadak. Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, Trump menuding kepemimpinan Kolombia, yang dipimpin Presiden Gustavo Petro, telah membiarkan produksi dan perdagangan kokain masuk ke AS. Ketika ditanya apakah operasi militer sedang dipertimbangkan, Trump menjawab singkat: “Sounds good.”
Mengapa Penting Pernyataan ini menandai perluasan tajam dari sikap koersif Trump di Amerika Latin. Jika Venezuela dianggap musuh, Kolombia justru merupakan mitra keamanan lama AS dalam kerja sama kontra-narkotika dan stabilitas regional. Ancaman militer terhadap sekutu berisiko merusak hubungan puluhan tahun dan menimbulkan ketidakstabilan baru. Selain itu, retorika Trump menimbulkan kekhawatiran bahwa ancaman militer mulai dinormalisasi sebagai alat diplomasi, memperburuk ketegangan di kawasan yang sudah rapuh.
Stakeholders yang Tertekan
Kolombia: Pemerintah di Bogotá harus merespons tegas tanpa memperburuk hubungan bilateral.
AS: Administrasi Trump menguji batas ancaman kekerasan tanpa memicu penolakan diplomatik maupun kongres.
Negara-negara regional: Kian khawatir efek domino dan preseden ancaman militer terhadap negara lain.
Jaringan narkotika: Bisa memanfaatkan keretakan diplomatik untuk memperkuat operasi ilegal.
Langkah Berikutnya Bogotá diperkirakan akan mengeluarkan respons diplomatik keras sambil mencari dukungan dari sekutu regional dan forum multilateral. Washington kemungkinan menggunakan ancaman ini sebagai alat tawar untuk memperkuat kerja sama kontra-narkotika, bukan langsung melakukan aksi militer. Keputusan akhir bergantung pada apakah pernyataan Trump akan diterjemahkan menjadi kebijakan nyata atau sekadar strategi intimidasi pasca operasi Venezuela.
Analisis Ancaman Trump tampak lebih sebagai upaya menunjukkan dominasi setelah operasi berisiko tinggi di Venezuela. Dengan memperluas target ke Kolombia, ia membangun citra tak terduga yang mungkin memberi keuntungan jangka pendek, tetapi berpotensi merusak kepercayaan jangka panjang. Menyerang sekutu justru mengaburkan batas antara lawan dan mitra, melemahkan kerja sama yang selama ini lebih efektif daripada kekuatan militer dalam memberantas narkotika. Strategi ini berisiko mengisolasi Washington di kawasan dan memperkuat narasi tentang unilateralisme AS.

