Menhan Venezuela Murka AS Tangkap Maduro, Desak Pemulangan Presiden yang Kini Ditahan di Penjara
SinPo.id - Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez menuntut Amerika Serikat (AS) segera membebaskan dan memulangkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, ke Caracas. Lopez mengecam keras penangkapan Maduro oleh pasukan AS dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.
“Kami menuntut pemulangan Presiden Maduro dan Ibu Negara,” kata Lopez, seperti dilansir CNN International, Senin 5 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa Maduro merupakan presiden sah Venezuela sekaligus panglima tertinggi militer, sehingga penangkapan tersebut dinilai sebagai tindakan agresi terbuka.
“Ini adalah tindakan agresi terhadap presiden sah Venezuela dan Ibu Negara. Kami menuntut pemulangan beliau dan panglima tertinggi kami,” tegas Lopez.
Penangkapan Maduro terjadi setelah serangan besar-besaran AS ke sejumlah titik di Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari. Pemerintahan Presiden Donald Trump menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah dan menudingnya terlibat dukungan terhadap kartel narkoba internasional yang disebut bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat narkoba ilegal.
Usai ditangkap, Maduro dan Cilia Flores diterbangkan ke Amerika Serikat. Presiden Venezuela itu kini ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC), New York, sebuah penjara federal yang dikenal memiliki kondisi keras dan pernah menahan sejumlah tokoh terkenal seperti R. Kelly, Ghislaine Maxwell, Sam Bankman-Fried, hingga Sean “P Diddy” Combs.
Menurut laporan CNN International, MDC New York kerap menghadapi masalah serius, mulai dari kekurangan staf, kekerasan antarnarapidana, hingga pemadaman listrik. Sejumlah kasus kematian narapidana juga pernah terjadi di fasilitas tersebut.
Langkah AS menangkap Maduro menuai kecaman luas dari berbagai pemimpin dunia. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyebut operasi tersebut sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Venezuela dan preseden berbahaya bagi komunitas internasional. Wali Kota New York terpilih Zohran Mamdani bahkan menyebutnya sebagai tindakan perang dan pelanggaran hukum federal serta internasional.
Di sisi lain, beberapa negara justru mendukung langkah Washington. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahusecara terbuka memuji Trump, sementara Ukraina menyatakan dukungan dengan alasan pembelaan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia di Venezuela.
Sejak September 2025, AS dilaporkan telah melakukan lebih dari 30 serangan terhadap target yang diklaim terkait penyelundupan narkoba Venezuela, menewaskan lebih dari 100 orang. Sejumlah pakar hukum internasional menilai rangkaian operasi militer dan penangkapan Maduro berpotensi melanggar hukum AS dan hukum internasional.
Hingga kini, tekanan diplomatik terhadap Washington terus meningkat, sementara Venezuela bersikeras bahwa penahanan Maduro adalah pelanggaran kedaulatan dan tindakan ilegal yang harus segera diakhiri.
