Kemenag Siapkan Rumah Ibadah Jadi Ruang Pendidikan dan Pemulihan Penyintas Bencana
SinPo.id - Kementerian Agama (Kemenag) memanfaatkan rumah ibadah sebagai ruang darurat pendidikan dan pemulihan sosial bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatra. Tujuannya, agar aktivitas belajar anak tidak terhenti.
"Langkah ini dimungkinkan, karena struktur Kementerian Agama yang bersifat vertikal hingga tingkat kecamatan," kata Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2026.
Kemendag juga telah mendata sarana prasarana pendidikan yang terdampak dan mitigasi penyelenggaraan Kegiatan Balajar Mengajar pada 5 Januari 2026. Pendataan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari madrasah hingga rumah ibadah.
"Bagi kami, penyamaan data tidak terlalu sulit karena Kementerian Agama memiliki organ dari pusat sampai ke KUA di kecamatan. Dengan struktur itu, data antara daerah dan pusat menjadi sangat simetris. Ini memudahkan kami bergerak cepat," kata Nasaruddin
"Kementerian Agama mendata berapa madrasah yang terdampak, berapa rumah ibadah yang terdampak, mana yang sudah bisa digunakan dan mana yang belum. Yang belum bisa dimanfaatkan itu kami carikan jalan keluarnya. Data yang kami miliki juga selaras dengan data BPS," sambungnya.
Nasaruddin menyebut, masjid dan rumah ibadah kemudian dimanfaatkan sebagai tempat darurat penyelenggaraan pendidikan. "Masjid bisa digunakan untuk kegiatan pendidikan darurat agar anak-anak tidak kehilangan hak belajarnya. Perhatian pemerintah, terutama Presiden, sangat besar pada dunia pendidikan. Yang penting anak-anak tidak terdampak lebih jauh," ucapnya.
Ia menambahkan, percepatan pemulihan dilakukan dengan kerja intensif selama 24 jam, bersama aparat dan masyarakat setempat. Infrastruktur yang diperkirakan selesai satu semester, dalam praktiknya bisa diselesaikan dalam hitungan minggu.
"Ini hasil kerja bersama tentara, polisi, dan masyarakat," katanya.
Dalam penanganan tersebut, Kemenag melibatkan lembaga filantropi dan organisasi masyarakat. "Kami tidak hanya mengandalkan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), tetapi juga bekerja bersama BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), LAZ (Lembaga Amil Zakat), BWI (Badan Wakaf Indonesia), dan ormas-ormas. Rumah ibadah lintas agama, seperti masjid, gereja, dan pura, kami upayakan bisa segera dipakai kembali. Di Sumatera Barat, tinggal sangat sedikit yang belum dapat digunakan," ujarnya.
Nasaruddin juga menyampaikan bantuan logistik keagamaan terus disalurkan, terutama mushaf Al-Qur’an dan buku-buku keagamaan. "Yang paling dibutuhkan masyarakat adalah mushaf Al-Qur’an. Kami sudah mencetak dan menyalurkan ribuan mushaf, tetapi belum mencukupi sehingga kami cetak lagi. Buku-buku keagamaan anak-anak juga menjadi perhatian karena banyak yang rusak atau hilang akibat bencana," tandasnya.
