Langgar Gencatan Senjata di Gaza, Israel Terus Bunuh Warga Sipil dan Batasi Pasokan Bantuan
SinPo.id - Pasukan Israel hingga kini terus melanggar perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati bersama kelompok pejuang Palestina Hamas, dengan terus membunuh warga sipil dan membatasi masuknya pasokan bantuan ke Gaza.
Pasukan Israel bahkan membunuh seorang anak Palestina yang diidentifikasi sebagai Youssef Ahmed al-Shandaghli, pada Kamis kemarin. Sumber medis di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza mengatakan, anak tersebut dibunuh oleh pasukan Israel di daerah Jabalia an-Nazla di Gaza utara.
Tak hanya itu, pembatasan Israel terhadap pengiriman bantuan ke Gaza juga memperburuk kondisi yang sudah mengerikan di wilayah tersebut, yang sebagian besar telah hancur akibat perang genosida Israel terhadap rakyat Palestina.
Saat ini ratusan ribu keluarga Palestina tinggal di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak dan tempat penampungan sementara di seluruh Jalur Gaza karena rumah mereka telah hancur. Mereka juga kekurangan pasokan bantuan yang dibutuhkan untuk menghadapi musim dingin.
Pada hari Kamis, media lokal juga melaporkan bahwa seorang gadis kecil meninggal di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah karena cuaca dingin yang ekstrem.
Secara terpisah, Pertahanan Sipil Palestina di Gaza juga melaporkan bahwa tim mereka menemukan jenazah seorang ibu dan anak setelah kebakaran terjadi di sebuah tenda yang menampung pengungsi di daerah Yarmouk di pusat Kota Gaza.
Awal pekan ini, badan hak anak PBB (UNICEF) mengatakan setidaknya lima anak Palestina telah meninggal di Gaza pada bulan Desember karena kurangnya tempat berlindung yang memadai.
“Anak-anak di Gaza telah cukup menderita dan berhak atas perlindungan dan tempat tinggal yang aman; semua upaya harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan penting ini,” kata direktur regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 2 Januari 2025.
“Selain itu, diperlukan masuknya pasokan penyelamat dan penunjang kehidupan dalam skala besar dan mendesak, termasuk barang-barang yang sebelumnya ditolak atau dibatasi," imbuhnya.
PBB dan badan-badan kemanusiaan telah mendesak otoritas Israel untuk mengizinkan tenda, selimut, dan perlengkapan lainnya masuk ke Gaza untuk membantu keluarga bertahan dalam menghadapi kondisi musim dingin yang ekstrem.
Namun Israel mengabaikan seruan untuk mencabut pembatasan pengiriman bantuan, meskipun ada kecaman internasional yang semakin meningkat karena kebijakannya membahayakan nyawa warga Palestina.
