Home /
Kaleidoskop November 2025

Modus Pemerasan Gubernur Wahid hingga Ledakan di SMA Negeri 72

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 31 Desember 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)
Ilustrasi (Wawan Wiguna/SinPo.id)

November 2025 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Riau Abdul Wahid sebagai tersangka dugaan korupsi pemerasan atau penerimaan hadiah atau janji di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau Tahun Anggaran 2025. Selain Wahid, KPK juga menetapkan dua tersangka lainnya, yakni Kepala Dinas PUPR-PKPP Muhammad Arief Setiawan dan Tenaga Ahli Gubernur Riau bernama Dani M. Nursalam

Pada bulan itu publik juga dikejutkan ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, yang menimbulkan sejumlah korban dibawa ke rumah sakit. Kejadian di komplek bangunan SMA kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara itu diketahui dilakukan oleh salah satu siswa sekolah tersebut.

'Jatah Preman' dan Kode 7 Batang, Modus Pemerasan Gubernur Wahid

SinPo.id -  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Riau Abdul Wahid sebagai tersangka dugaan korupsi pemerasan atau penerimaan hadiah atau janji di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau Tahun Anggaran 2025. Selain Wahid, KPK juga menetapkan dua tersangka lainnya, yakni Kepala Dinas PUPR-PKPP Muhammad Arief Setiawan dan Tenaga Ahli Gubernur Riau bernama Dani M. Nursalam.

Sebelumnya lembaga antirasuah juga menangkap 10 orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Provinsi Riau pada Senin, 3 November 2025.

"Telah ditemukan unsur dugaan peristiwa pidananya, ini pidana korupsi, maka perkara ini naik ke tahap penyidikan, yang kemudian setelah ditemukan kecukupan alat bukti, KPK menetapkan tiga orang sebagai tersangka," kata Wakil Ketua KPK Johanis Tanak, saat konferensi pers, Rabu, 5 November 2025.

Menurut Tanak, dugaan pemerasan bermula dari pertemuan antara Sekretaris Dinas PUPR PKPP Provinsi Riau, Ferry Yunanda dengan enam Kepala UPT Wilayah I-VI, Dinas PUPR PKPP pada Mei 2025.

“Pertemuan itu membahas kesanggupan pemberiaan fee kepada Abdul Wahid,” ujar Tanak menambahkan.

Fee yang akan diberikan sebesar 2,5 persen atas penambahan anggaran 2025 yang dialokasikan pada UPT Jalan dan Jembatan Wilayah I-VI Dinas PUPR PKPP yang semula Rp71,6 miliar menjadi 177,4 miliar  atau terjadi kenaikan Rp106 miliar.

Istilah 'Jatah Preman' dan Kode 7 Batang

Selanjutnya Ferry Yunanda menyampaikan hasil pertemuan itu kepada atasannya, yakni Kepala Dinas PUPR-PKPP Muhammad Arief Setiawan.  Namun, Arief yang merepresentasikan Abdul Wahid meminta fee sebesar 5 persen atau sejumlah Rp7 miliar.

"Bagi yang tidak menuruti perintah tersebut, diancam dengan pencopotan ataupun mutasi dari jabatannya. Di kalangan Dinas PUPR PKPP Riau, permintaan ini dikenal dengan istilah 'jatah preman'," kata Tanak menjelaskan.

Pembahasan rasuah itu juga melibatkan Kepala UPT Wilayah Dinas PUPR PKPP beserta Sekretaris Dinas PUPR PKPP Riau yang  menggelar pertemuan kembali dan menyepakati besaran fee untuk Wahid sebesar 5 persen atau Rp7 miliar. Catatan KPK menyebutkan, hasil pertemuan tersebut dilaporkan kepada Kepala Dinas PUPR PKPP Riau dengan menggunakan bahasa kode '7 batang.

Sedangkan penyerahan fee itu dilakukan bertahap sebanyak tiga kali sejak Juni 2025, Agustus 2025, dan November 2025. Dengan total penyerahan pada Juni hingga -November 2025 mencapai Rp4,05 miliar dari kesepakatan awal sebesar Rp7 miliar.

"Sehingga, total penyerahan pada Juni-November 2025 mencapai Rp4,05 miliar dari kesepakatan awal sebesar Rp7 miliar," kata Tanak menjelaskan.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo mengatakan, sebelum mentersangkakan Gubernur Abdul Wahid, KPK telah menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap 10 orang. Mereka di antaranya Kepala Dinas PUPR-PKPP Muhammad Arief Setiawan, Sekretaris Dinas PUPR-PKPP Ferry Yunanda, serta seorang kepercayaan Abdul Wahid, Bernama Tata Maulana. Selain itu, Tenaga Ahli Gubernur Riau bernama Dani M. Nursalam juga telah menyerahkan diri ke KPK pada Selasa, 4 Movember 2025, malam.

Selain menangkap sejumlah orang tersebut, KPK turut menyita sejumlah uang dalam pecahan rupiah, dolar Amerika Serikat, dan poundsterling dengan total setara Rp1,6 miliar.

"Selain pihak-pihak yang diamankan tersebut, tim juga mengamankan barang bukti berupa uang dalam bentuk rupiah, dolar Amerika, dan poundsterling yang jika dirupiahkan sekitar Rp1,6 miliar," kata Budi menjelaskan.

Gubernur Keempat Yang Korup

Tertangkapnya Abdul Wahid itu memprihatinkan, terlebih catatan KPK yang menyebut para gubernur Riau sebelum Abdul Wahid juga menjadi tersangka kasus korupsi.

Kami menyampaikan keprihatinan," ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo.

Tercatat Gubernur Riau pertama yang ditangkap KPK Saleh Djasit terkait kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran. Djasit ditahan KPK pada 19 Maret 2008 dan divonis 4 tahun penjara.

Gubernur kedua adalah Rusli Zainal yang terjerat dugaan korupsi dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau, dan penyalahgunaan wewenang terkait penerbitan Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman.

Rusli ditetapkan sebagai tersangka pada 8 Februari 2013. Rusli Zainal divonis 14 tahun penjara, namun Mahkamah Agung mengurangi masa hukuman Rusli Zainal menjadi 10 tahun penjara.

Selain itu Annas Maamun dalam kasus suap alih fungsi lahan kawasan hutan kebun kelapa sawit di Riau. Annas kemudian divonis 7 tahun penjara, namun mendapat grasi pemotongan masa hukuman oleh mantan presiden Joko Widodo pada 21 September 2020 karena penyakit komplikasi yang diderita Annas.

Selain kasus itu, KPK juga pernah menahan Annas Maamun dalam kasus korupsi RAPBD tahun 2014 dan 2015 di Provinsi Riau. Annas divonis 1 tahun penjara serta denda Rp 100 juta atas kasus itu. (*)

 

Fakta Mengejutkan Ledakan di SMA Negeri 72

SinPo.id -  Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Jumat, 7 November 2025 siang tak hanya mengejutkan, namun juga menimbulkan sejumlah korban dibawa ke rumah sakit. Kejadian di komplek bangunan SMA kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara itu diketahui dilakukan oleh salah satu siswa sekolah tersebut. Catatan Sinpo.id menunjukkan ledakan pertama terdengar ketika khotbah berlangsung, disusul ledakan kedua dari arah berbeda.

Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengatakan, terdapat 54 orang luka langsung dirawat di dua rumah sakit di Jakarta Pusat.  "Data awal yang kita terima kurang lebih 54 orang. Mungkin ada yang luka ringan, ada yang luka sedang," kata Edi, sesaat usai kejadian Jum’at, 7 November 2025.

Sedangkan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menemukan tujuh bahan peledak di Lokasi. Dari tujuh bahan peledak yang ditemukan, empat di antaranya sudah meledak di dua lokasi.  Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto menyampaikan, dari tujuh bom ditemukan di lokasi kejadian, empat di antaranya sudah diledakkan di dua lokasi.

"Di TKP 1 ditemukan dua bom yang sudah meledak di dalam masjid," ujar Henik.

Bom juga ditemukan di tong sampah berjumlah empat, dua di antaranya sudah meledak dan duanya sisanya berhasil dijinakkan. Bom lain ditemukan di kawasan taman baca, menggunakan kontrol remote dalam kemasan kaleng minuman.“Bom aktif dan di sebelahnya terdapat remote," katanya.

Motif Terduga

Catatan kepolisian menyebutkan pelaku peledakan salah satu siswa sekolah di SMAN 72 yang sebelumnya mengalami perundungan. Polisi juga menelusuri sejumlah faktor penyebab, termasuk kemungkinan pengaruh game oline daring dan masalah sosial di sekolah.

"Jadi dorongannya itu, yang bersangkutan merasa sendiri dan tidak ada tempat menyelurkan keluh kesahnya, baik di lingkungan sekolahnya maupun di keluarganya," kata Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kombes, Iman Imanuddin saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Selasa, 11 November 2025.

Temuan polisi itu berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap pelaku yang berstatus  anak berhadap dengan hukum (ABH). Selain itu siswa bersangkutan juga dikenal sangat tertutup dan sering menyendiri di sekolah serta sering mengakses konten kekerasan dari saluran internet. "Pelaku ini terkenal sangat tertutup, menyendiri dan juga kerap mengakses konten kekerasan," ujar Iman mejelaskan.

Namun temuan lain disampaikan Densus 88, yang mengatakan terduga peledakan menyimpan rasa dendam berbulan-bulan terhadap sejumlah orang yang memperlakukan dirinya sewenang-wenang dan tidak adil. Hal ini terungkap dari hasil pemeriksaan pelaku dan pihak keluarganya.

"Dari awal tahun yang bersangkutan sudah mulai melakukan pencarian-pencarian. Ada motivasi dendam terhadap beberapa perlakuan orang terhadap yang bersangkutan," kata  juru bicara Densus 88, AKB Mayndra Eka Wardhana saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 11 November 2025.

Rasa demdam ditambah  merasa tak tahu bagaimana cara melampiaskannya, sehingga pelaku termotivasi bergabung ke salah satu grup kekerasan di salah satu media sosial.

"Perasaan merasa tertindas, kesepian, tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa, yang bersangkutan mengikuti komunitas di media sosial di mana di situ mereka mengagumi kekerasan," ujar Eka menjelaskan.

Yang bersangkutan juga terinspirasi dari enam tokoh yang dikenal dengan aksi kekerasan ekstrem hingga pembunuhan. Hal itu diketahui setelah Densus 88 menyelidiki serta mendapat temuan tulisan tokoh itu pada senjata mainan pelaku.  

"Nah di sini ada suatu hal yang memprihatinkan, ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur kita sebutkan ada kurang lebih 6 yang tercatat," ujar Mayndra menjelaskan.

Enam tokoh itu, yakni Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan massal di Columbine High School, AS, 1999, penganut neo-Nazi. Dylann Storm Roof, pelaku penyerangan gereja di Charleston, AS, 2015, penganut supremasi kulit putih. Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan masjid di Quebec, Kanada, 2017, dikenal karena Islamofobia ekstrem.

Selain itu Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan massal Politeknik Kerch, Crimea, 2018; Brenton Tarrant, pelaku serangan masjid Christchurch, Selandia Baru, 2019. Serta Natalie Lynn 'Samantha' Rupnow, pelaku penembakan sekolah di Madison, AS, 2024.

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI