Israel Akui Somaliland, MPR: Upaya Memecah Belah Somalia
SinPo.id - Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), mengatakan manuver Israel yang mengakui Somaliland sebagai negara, merupakan bentuk intervensi dan upaya memecah belah negara Republik Somalia yang berdaulat dan merupakan anggota penuh PBB.
Menurutnya, jika hal itu dibiarkan, maka kekuasaan Israel akan meluas ke wilayah di luar Palestina, termasuk Somaliland, yang mulai terlihat dari upaya kerja sama, termasuk kerja sama militer, antara Israel dan kelompok separatis setempat.
“Ini jelas harus ditolak secara bersama-sama oleh masyarakat internasional demi perdamaian dan terwujudnya solusi dua negara. Sekaligus menggagalkan proyek ambisius Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membentuk Israel Raya," kata HNW, dalam keterangan persnya, Senin, 29 Desember 2025.
Ia pun mengingatkan bahwa apabila manuver tersebut tidak dicegah secara kolektif oleh komunitas internasional dan negara-negara pendukung Palestina merdeka, maka preseden buruk tersebut berpotensi menimpa negara lain, termasuk Indonesia.
“Akan sangat berbahaya apabila Israel melakukan pola serupa dengan bekerja sama dengan kelompok-kelompok separatis di negara lain, termasuk di Indonesia,” tegasnya.
Srlain itu, kata HNW, tuntutan pemisahan diri Somaliland dari Republik Somalia tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk right to self-determination. Karena dalam hukum kebiasaan internasional, hak menentukan nasib sendiri hanya dapat digunakan sekali dan untuk selamanya.
Terlebih Rakyat Somalia telah menggunakan hak tersebut pada 1 Juli 1960 saat memerdekakan diri dari penjajahan Inggris dan Italia.
“Argumen ini pula yang kerap digunakan pemerintah Indonesia untuk menolak tuntutan kelompok separatis, karena hak menentukan nasib sendiri telah digunakan pada saat referendum dan pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh PBB,” jelasnya.
Sebaliknya, HNW menjelaskan bahwa pihak yang justru berhak atas right to self-determination adalah rakyat Palestina. Hal ini ditegaskan melalui Resolusi Sidang Umum PBB pada 16 Desember 2025 yang didukung mayoritas mutlak negara anggota PBB, sebanyak 164 negara.
Namun hingga kini Palestina masih berada di bawah penjajahan Israel dan belum dapat menggunakan hak menentukan nasibnya sendiri untuk mendirikan negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
“Manuver Israel mengakui Somaliland justru akan semakin menguatkan cengkeraman penjajahan Israel atas Gaza dan Palestina, serta makin memustahilkan pelaksanaan resolusi PBB tentang Palestina, termasuk hak menentukan nasib sendiri dengan berdirinya negara Palestina yang benar-benar merdeka dan berdaulat,” tandasnya.

