Akhiri Konflik, Gus Yahya Ajak Kubu Raim Aam Gelar Muktamar Bersama
SinPo.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya mengajak kubu Rais Aam KH Miftachul Akhyar untuk bersama-sama menyiapkan agenda Muktamar ke-35 sesuai dengan Anggara Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. Hal ini sebagai upaya mengakhiri konflik internal yang berkepenjangan, serta menjaga keutuhan Jam'iyah.
Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya menanggapi Surat Tabayun Rais Aam KH Miftachul Akhyar yang berjudul Menempatkan Pemberhentian Ketua Umum dalam Koridor Konstitusi Jam'iyah.
"Mari kita bersama-sama dalam semangat musyawarah menyiapkan Muktamar yang legitimate dan sesuai dengan AD/ART Nahdlatul Ulama sebagai jalan keluar yang terhormat dan konstitusional untuk menyelesaikan semua persoalan dan membawa NU melangkah ke masa depan yang lebih baik," kata Gus Yahya membacakan Surat Pernyataan Nomor: 4937/PB.23/A.II.07.08/99/12/2025 bertema "Menjernihkan Masalah, Menatap Masa Depan" di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta, Rabu, 24 Desember 2025
Gus Yahya menegaskan, uraian surat Tabayun Rais Aam, yang diterbitkan pada 1 Rajab 1447 atau Senin, 22 Desember 2025 lalu, masing-masing harus memiliki konteks yang saling berkaitan dan tidak dapat dipahami secara terpisah satu sama lain.
"Jika kita bersedia melihat dan memahami keseluruhan konteks tersebut secara utuh dan jujur, maka akan tampak dengan sangat nyata bahwa keputusan Rapat Harian Syuriyah di Hotel Aston ada 20 November 2025, dan seluruh keputusan turunannya hingga klaim penetapan Penjabat Ketua Umum, adalah tindakan yang tidak memiliki dasar bahkan bertentangan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga atau AD/ART dan dengan sendirinya batal demi hukum," tegasnya.
Gus Yahya menyampaikan, sebagai Mandataris Muktamar PBNU ke-34 di Lampung 2021 silam, dirinya bertanggung jawab untuk menjaga konstitusi Jam'iyah. Oleh karenanya, Gus Yahya menolak keputusan Rapat Harian Syuriah tersebut.
"Saya menolak keputusan tersebut dan seluruh produk lanjutannya, Bukan karena kepentingan pribadi melainkan demi menjaga maruah dan tatanan organisasi yang kita warisi dari para Muassis," ucapnya.
Menurut Gus Yahya, dinamika yang terjadi belakangan ini tidak seharusnya menimbulkan perpecahan berkepanjangan yang dapat merusak NU sebagai rumah besar bersama. Semestinya energi organisasi difokuskan pada khidmat dan kerja-kerja keumatan, bukan perselisihan internal yang berlarut-larut.
"Saya mengajak semua pihak, termasuk diri saya sendiri, untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru dengan semangat persaudaraan (Ukhuwah)," tuturnya.
"Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberi petunjuk dan merindhoi ikhtiar kita bersama," tandasnya.
