Kemenbud Dorong Pembangunan Museum Syekh Yusuf di Afsel, Tandai 400 Tahun Ulama Pejuang Nusantara

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:47 WIB
400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al Makassari
400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al Makassari

SinPo.id -  Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar taklimat media bertajuk “400 Tahun Syekh Yusuf Al Makassari” di Gedung A Kemdikdasmen, Senayan, Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al Makassari sekaligus mendukung rencana pembangunan Museum Syekh Yusuf Al Makassari dan Rumah Budaya Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam sambutannya menegaskan bahwa Syekh Yusuf Al Makassari merupakan sosok ulama besar yang berperan penting dalam memperkaya kehidupan spiritual dan keagamaan lintas negara. Ia menyebut Syekh Yusuf sebagai tokoh pejuang, tokoh moral, serta pembawa fajar Islam yang pengaruhnya melampaui Indonesia hingga Sri Lanka dan Afrika Selatan.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pemikiran Syekh Yusuf, Kementerian Kebudayaan berupaya merealisasikan pembangunan Museum Syekh Yusuf Al Makassari di Cape Town, tepatnya di seberang makam beliau. Menurut Fadli Zon, keberadaan museum tersebut diharapkan mampu menghidupkan ekosistem budaya dan sejarah di sekitarnya.

“Tahun depan kami berharap karya-karya Syekh Yusuf dapat diakui sebagai Memory of the World UNESCO. Ini adalah bentuk penghormatan atas pemikiran, perjuangan, dan keteguhan hatinya. Kami juga ingin membangun museum di Cape Town agar warisan beliau terus hidup dan dikenal dunia,” ujar Fadli Zon.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengenalkan gagasan dan nilai-nilai Syekh Yusuf kepada masyarakat luas. Kementerian Kebudayaan pun tengah menggagas kerja sama dengan Pemerintah Afrika Selatan dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menggelar diskusi buku, seminar, dan berbagai kegiatan akademik terkait Syekh Yusuf Al Makassari.

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, menambahkan bahwa peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf memiliki makna strategis dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia. Menurutnya, Syekh Yusuf adalah sosok ulama, intelektual, sekaligus pejuang dengan warisan pemikiran yang melampaui batas ruang dan waktu.

Taklimat media ini juga menghadirkan akademisi filsafat dan filologi. Guru Besar Filsafat Pendidikan dan Dakwah UIN Alauddin Makassar, Prof. Mustari, memaparkan perjalanan intelektual Syekh Yusuf yang menimba ilmu dari berbagai guru besar di Jazirah Arab. Ia menilai etika religius dan dakwah Syekh Yusuf relevan dalam konteks kekinian, terutama untuk membendung dehumanisasi dan radikalisasi agama melalui konsep keseimbangan dan non-ekstremisme.

Sementara itu, filolog Perpustakaan Nasional, Aditya Gunawan, menjelaskan bahwa pengusulan karya-karya Syekh Yusuf Al Makassari sebagai Memory of the World UNESCO dilakukan melalui kolaborasi dengan Universitas Leiden. Delapan naskah diusulkan, terdiri dari tiga naskah koleksi Perpustakaan Nasional dan lima naskah dari Universitas Leiden. Karya-karya tersebut dinilai memiliki signifikansi historis, sosial, dan spiritual di kawasan Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan.

Acara ini turut dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan, perwakilan Memory of the World UNESCO, Pemerintah Kota Makassar, serta Yayasan Lontara. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan puisi oleh sastrawan Nabilah Lubis dan Taufiq Ismail yang menggambarkan perjuangan, doa, serta keteguhan Syekh Yusuf Al Makassari sebagai pahlawan bangsa.

Melalui rencana pembangunan museum dan penguatan diplomasi budaya ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk menjadikan nilai-nilai sejarah dan kemanusiaan sebagai fondasi kerja sama budaya, pendidikan, dan penelitian Indonesia dengan negara-negara sahabat.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI