Home /

BPOM Terapkan AI untuk Percepat Izin Edar Produk

Laporan: Sigit Nuryadin
Jumat, 28 November 2025 | 23:22 WIB
Kepala BPOM Taruna Ikrar. (SinPo.id/dok. Bpom)
Kepala BPOM Taruna Ikrar. (SinPo.id/dok. Bpom)

SinPo.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi meluncurkan sistem izin edar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk memangkas waktu registrasi serta meningkatkan akurasi penilaian keamanan produk. 

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan, transformasi digital ini bukan hanya soal percepatan layanan, tetapi juga penguatan pengawasan pasca-pasar yang selama ini menjadi titik rawan peredaran produk berbahaya.

“AI bukan sekadar alat untuk mempercepat proses registrasi. Justru yang paling penting adalah bagaimana teknologi ini memperkuat sistem mitigasi risiko setelah produk beredar,” kata Taruna di Jakarta, Jumat, 28 November 2025.

Dia menyebut penggunaan AI sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto sekaligus dicatatkan sebagai Lompatan Besar Layanan Publik Berbasis AI Pertama di Indonesia oleh MURI.

Menurut Taruna, BPOM memiliki basis data standar keamanan yang sangat rinci untuk tiap kategori produk, mulai kosmetik hingga obat herbal. AI, kata dia, memproses standar tersebut secara otomatis untuk memastikan produk yang diajukan memenuhi unsur keselamatan konsumen. 

“Kalau tidak sesuai standar, sistem akan langsung menolak. Itu lapis mitigasi pertama,” tuturnya. 

Namun, Taruna menegaskan, filter awal bukan satu-satunya garis pertahanan. Ia menyoroti pentingnya post-marketing surveillance sebagai elemen pengawasan yang diperkuat oleh sistem baru ini. 

“Kalau produk sudah lulus tahap awal, kami masih punya direktorat siber, intelijen, dan penyidikan yang melakukan surveilans acak. Kalau ditemukan pelanggaran, izin bisa dicabut dan kasus dapat dibawa ke ranah hukum,” ujar Taruna. 

Peluncuran sistem berbasis AI ini, menurut Taruna, akan diperluas secara bertahap ke berbagai kategori lain. 

“Setelah kosmetik, akan menyusul obat herbal terstandar, suplemen, pangan, hingga obat-obatan,” ungkap dia. 

Dia mengungkapkan, BPOM akan mengevaluasi kinerja sistem tersebut untuk menentukan pengembangan program pada tahun berikutnya. Taruna menilai era baru regulasi berbasis AI ini merupakan langkah strategis untuk menjaga integritas pasar kesehatan dan pangan Indonesia. 

“Perkembangan teknologi adalah keniscayaan. Tantangannya bukan menghindari AI, tetapi memastikan kita mengendalikannya untuk melindungi masyarakat,” tandasnya. 

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI