Drama Rencana Damai Rusia-Ukraina: Dokumen 28 Poin Disebut Cerminkan Keinginan Rusia, Zelensky Balas Sindiran
SinPo.id - Ketegangan diplomatik antara Washington, Kyiv, dan Moskow memasuki babak baru setelah serangkaian pernyataan saling balas terkait rencana damai 28 poin yang diusulkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina.
Rencana tersebut saat ini berada pada tahap akhir, dan menurut Rustem Umerov, Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, dokumen itu “sudah mencerminkan sebagian besar prioritas utama Ukraina.” Pernyataan itu ia sampaikan melalui Telegram, seraya menyebut pembahasan berjalan konstruktif dan menargetkan kemajuan lebih lanjut pada 23 November.
Dokumen 28 Poin: Dari Jaminan Keamanan hingga Pembatasan Militer Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menerima draf rencana itu pada 20 November, dan berencana membahasnya langsung dengan Trump. Dokumen tersebut disusun oleh tim Trump, termasuk Utusan Khusus Steve Witkoff, Wakil Presiden J.D. Vance, Menlu Marco Rubio, dan Jared Kushner.
Isi rencana yang bocor ke media meliputi:
Perjanjian non-agresi antara Rusia, Ukraina, dan negara-negara Eropa.
Penghentian perluasan NATO — termasuk memastikan Ukraina tidak akan pernah bergabung.
Jaminan keamanan dari AS untuk Ukraina.
Pembatasan kekuatan militer Ukraina menjadi maksimal 600.000 personel.
Ketentuan penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk rekonstruksi Ukraina.
Sejumlah poin ini dinilai selaras dengan tuntutan Kremlin, termasuk soal NATO dan pembatasan militer Kyiv.
Trump: Ukraina “Tak Bersyukur” dan Bernegosiasi dari Posisi Lemah
Ketegangan meningkat setelah Trump menyatakan Ukraina menunjukkan “tidak ada rasa terima kasih” atas upaya AS. Ia menilai Zelensky bernegosiasi dari posisi lemah, sementara Rusia masih memegang “keunggulan nyata di medan tempur”.
Trump sebelumnya memberi tenggat hingga 27 November (Thanksgiving) untuk menyetujui proposal tersebut, meski ia menyebut ada kemungkinan fleksibilitas.
“Jika dia tidak menyukainya, ya… mereka bisa terus berperang. Tapi pada akhirnya, dia harus menerima sesuatu,” kata Trump.
Zelensky Langsung Balas Sindiran Trump
Beberapa jam setelah komentar pedas Trump, Zelensky menulis di X:
“Ukraine is grateful to the United States… and personally to President Trump for the assistance that — starting with the Javelins — has been saving Ukrainian lives.”
Pernyataan itu dipandang sebagai upaya meredakan ketegangan sekaligus mempertahankan dukungan AS.
Pertarungan Narasi di AS: Dokumen Disebut 'Daftar Keinginan Rusia'
Kontroversi makin memanas setelah bocoran dokumen memicu perdebatan di internal pemerintah AS.
Sejumlah senator yang hadir dalam briefing keamanan di Halifax International Security Forum mengklaim Menlu Marco Rubio menyebut draf itu sebagai “daftar keinginan Rusia”.
Senator Mike Rounds mengatakan Rubio menyebut AS hanya “penerima proposal”, bukan penyusun.
Namun beberapa jam kemudian, Rubio membantah keras klaim para senator tersebut.
“Proposal itu ditulis oleh Amerika Serikat…” tulisnya di X, menegaskan dokumen tersebut adalah kerangka negosiasi resmi yang memuat masukan Ukraina dan Rusia.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott menyebut pernyataan para senator “benar-benar tidak akurat.”
Eropa dan Sekutu AS Gelisah
Para pemimpin sembilan negara Eropa, termasuk Jepang dan Kanada, menyampaikan kekhawatiran bahwa proposal itu — terutama pembatasan militer Ukraina — akan meninggalkan Kyiv dalam keadaan rentan terhadap agresi baru Moskow.
Putin Menunggu, Ukraina Cari Alternatif
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan siap membahas rincian rencana damai. Namun ia memperingatkan, jika Kyiv menolak, Rusia akan “melanjutkan ofensif penuh” seperti sejak awal invasi pada Februari 2022.
Zelensky sendiri mengatakan Ukraina akan mengajukan “alternatif” atas beberapa poin yang dianggap merugikan.
Pertemuan Tingkat Tinggi di Jenewa
Menlu AS Marco Rubio dan utusan khusus Steve Witkoff dijadwalkan tiba di Jenewa untuk melanjutkan pembahasan bersama delegasi Ukraina. Pejabat Eropa juga akan hadir.

