Trump Tetapkan Tenggat “Kamisan” untuk Respons Ukraina Soal Rencana Damai 28 Poin

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 22 November 2025 | 06:47 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Kamis pekan depan sebagai batas waktu “yang tepat” bagi Ukraina untuk merespons proposal perdamaian 28 poin yang disusun Washington. Namun, Trump menegaskan tenggat tersebut bersifat fleksibel jika perkembangan negosiasi menunjukkan kemajuan.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah wawancara radio, di mana ia menyebut proposal tersebut sebagai upaya menghentikan kekerasan yang masih berlangsung di wilayah konflik antara Ukraina dan Rusia.

Tenggat Fleksibel Jika Negosiasi Maju

Ketika ditanya soal batas waktu yang bertepatan dengan libur Thanksgiving pada 27 November, Trump menegaskan dirinya tidak terpaku pada tanggal tersebut.

“Saya punya banyak tenggat waktu,” ujar Trump. “Kalau semuanya berjalan baik, biasanya tenggatnya diperpanjang. Tapi Kamis itu, kami pikir waktu yang tepat.”

Pernyataan itu menandakan bahwa tenggat yang diberikan lebih merupakan patokan awal ketimbang ultimatum kepada Kyiv.

Butuh Konsesi Besar dari Ukraina

Proposal perdamaian itu, menurut laporan, berisi sejumlah poin yang menuntut kompromi besar dari Ukraina. Di antaranya:

Ukraina harus menghentikan upaya bergabung dengan NATO.

Kyiv diminta mengakui Crimea dan sebagian wilayah Donetsk serta Luhansk berada di bawah kendali Rusia.

Pembentukan zona demiliterisasi di wilayah Donbas.

Sebagai imbalannya, AS menawarkan skema jaminan keamanan bagi Ukraina yang disebut mirip prinsip pertahanan kolektif NATO.

Respons Kyiv dan Moskow

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan akan mendiskusikan proposal perdamaian tersebut secara langsung dengan Trump. Kyiv, katanya, terus berkonsultasi dengan para mitra internasional untuk memastikan kepentingan nasionalnya tetap terjamin.

Dari pihak Rusia, Kremlin menyatakan belum ada kontak tingkat tinggi sejak pertemuan pemimpin kedua negara di Alaska pada Agustus lalu. Moskow juga tetap berpegang pada posisi lamanya terkait konflik tersebut.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI