Resmikan Gedung FSUI, Pramono: Ulama Pilar Stabilitas Sosial Jakarta
SinPo.id - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut para ulama memiliki peran sentral dalam menjaga stabilitas sosial Jakarta, terutama di tengah masa transisi ibu kota menjadi kota global.
Hal itu disampaikan Pramono saat meresmikan kantor baru Forum Silaturahmi Ulama Indonesia (FSUI) di kawasan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat, 12 September 2025.
Dalam acara tersebut, Pramono secara simbolis menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian gedung baru FSUI, yang dibangun melalui program hibah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dia mengapresiasi kontribusi para kyai dan tokoh agama yang tergabung dalam FSUI dalam menjaga suasana sejuk dan damai di tengah keberagaman masyarakat.
“Para ulama di forum ini adalah penjaga kesejukan Jakarta. Mereka telah menunjukkan bahwa agama bisa menjadi perekat, bukan pemecah,” ujar Pramono dalam sambutannya.
Dia mengatakan, membangun Jakarta bukan semata-mata soal infrastruktur, melainkan juga pembangunan karakter dan nilai. Menurutnya, ulama memiliki posisi strategis dalam menjaga moralitas publik dan menyuarakan moderasi beragama di tengah tantangan zaman.
“Transformasi Jakarta harus dibarengi dengan ketahanan sosial. Dan ketahanan itu salah satunya bertumpu pada peran ulama sebagai penjaga nilai dan etika,” tuturnya.
Dia pun berharap, kantor baru FSUI ini menjadi ruang terbuka bagi dialog antarumat dan pusat gerakan dakwah yang menyejukkan. Pramono menyebut forum seperti FSUI merupakan bentuk nyata kolaborasi antara umara (pemerintah) dan ulama, yang menurutnya menjadi model kemitraan ideal dalam membangun kota.
“Kami percaya, kedekatan umara dan ulama adalah pondasi dari kota yang tenteram dan beradab,” kata Pramono.
Pemprov DKI, lanjutnya, berkomitmen untuk terus memperkuat lembaga keagamaan melalui bantuan sarana, prasarana, hingga kegiatan pemberdayaan sosial. Dalam rangka menyambut 500 tahun Jakarta pada 2027, Pramono menegaskan pemerintah daerah terus mendorong Jakarta menjadi kota global yang tidak tercerabut dari akar nilai dan budayanya.
“Modernisasi tidak boleh menggerus nilai. Justru nilai dan budaya adalah kompas yang mengarahkan kita agar tidak kehilangan arah dalam membangun kota,” tandasnya.

