Xi Jinping Kunjungi Korea Utara, Antara Persahabatan dan Upaya Mengendalikan Pengaruh Rusia

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 09 Juni 2026 | 05:57 WIB
Presiden Tiongkok Xi Jinping. (SinPo.id/Lintao Zhang/Getty Images)
Presiden Tiongkok Xi Jinping. (SinPo.id/Lintao Zhang/Getty Images)

SinPo.id -  Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan langka ke Pyongyang pada Senin 8 Juni 2026, pertama kalinya sejak 2019. Dalam sambutan di Kim Il Sung Square, Xi menegaskan komitmen untuk membawa hubungan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ke “tingkat baru”.

Kunjungan ini disambut meriah oleh warga yang berbaris di jalanan ibu kota dengan sorakan “selamat datang” dalam bahasa Korea dan Mandarin. Spanduk besar bertuliskan “ikatan tak tergoyahkan” menegaskan simbol persahabatan kedua negara.

Namun di balik seremoni, kunjungan Xi dinilai lebih sarat kepentingan strategis daripada sekadar persahabatan. Beijing ingin memastikan stabilitas di perbatasan sekaligus menjaga pengaruhnya di Pyongyang, terutama di tengah menguatnya hubungan Korea Utara dengan Rusia.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, Pyongyang memperluas kerja sama militer dengan Moskow, termasuk menandatangani pakta pertahanan bersama pada 2024. Investigasi BBC mencatat sekitar 2.300 tentara Korea Utara tewas dalam perang mendukung Rusia, sementara Pyongyang dituduh memasok amunisi sebagai imbalan minyak dan bantuan. Kondisi ini membuat Beijing khawatir pengaruhnya berkurang.

Xi berusaha mereset hubungan dengan Kim, antara lain dengan mengundangnya ke parade militer di Beijing akhir tahun lalu. Meski demikian, Tiongkok tetap berhati-hati: tidak mendukung program nuklir Pyongyang, tetapi juga tidak menentangnya secara terbuka agar Korea Utara tidak semakin dekat dengan Rusia.

Bagi Kim, Tiongkok tetap sumber bantuan terbesar. Ekspor Tiongkok ke Korea Utara melonjak hingga USD 2,3 miliar pada 2025, tertinggi dalam enam tahun. Layanan kereta penumpang Beijing–Pyongyang juga kembali beroperasi setelah lama terhenti.

Hubungan kedua negara memang penuh dinamika. Xi pernah menunjukkan ketidakpuasan dengan kebijakan Kim, bahkan sempat mengunjungi Korea Selatan sebelum bertemu Kim pada 2014. Namun kini, baik Beijing maupun Pyongyang menyadari bahwa mereka saling membutuhkan: Tiongkok sebagai pelindung, Korea Utara sebagai buffer strategis.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI