Serangan Udara Balasan Rusia-Ukraina, 5 Tewas di Zaporizhia, Infrastruktur Energi Jadi Target
SinPo.id - Rusia dan Ukraina kembali saling melancarkan serangan udara mematikan, hanya beberapa jam setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu para pemimpin Eropa di London.
Pada Senin pagi 8 Juni 2026, serangan Rusia menewaskan lima orang dan melukai 14 lainnya di wilayah Zaporizhia, Ukraina tenggara. Gubernur Ivan Fedorov menyebut serangan dilakukan dengan drone dan artileri, merusak infrastruktur, bangunan tempat tinggal, serta kendaraan.
Di wilayah Odesa, serangan Rusia terhadap infrastruktur energi menyebabkan pemadaman listrik bagi lebih dari 1.000 pelanggan. Sehari sebelumnya, pasukan Rusia juga menargetkan fasilitas penyimpanan bahan bakar nuklir di dekat bekas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chornobyl.
Ukraina membalas dengan sejumlah serangan. Sebuah drone menghantam kereta di Crimea yang dianeksasi Rusia, menewaskan asisten masinis dan melukai masinis. Gubernur yang ditunjuk Rusia, Sergei Aksyonov, mengonfirmasi insiden tersebut.
Di Rusia, unit pertahanan udara menggagalkan serangan drone di wilayah Volgograd. Puing yang jatuh memicu kebakaran di stasiun pompa distrik Zhirnovsky, meski tidak ada korban jiwa. Sementara itu, di pelabuhan Laut Hitam Novorossiysk, kompleks pemuatan terbakar akibat serangan drone. Otoritas setempat menyebut 130 petugas pemadam dikerahkan untuk mengendalikan api.
Serangan ini terjadi setelah Zelenskyy mendapat dukungan dari Inggris, Prancis, dan Jerman untuk mendorong perundingan gencatan senjata langsung dengan Rusia. Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron memuji seruan Zelenskyy untuk mengakhiri perang melalui dialog dengan Presiden Vladimir Putin.
Namun, Putin menolak tawaran tersebut dengan alasan “tidak ada gunanya” melakukan pertemuan saat ini. Zelenskyy menegaskan bahwa posisi Eropa harus kuat dalam setiap negosiasi demi kepentingan Ukraina.

