Ekonom AMRO Proyeksi Pertumbuhan ASEAN+3 Tetap Lampaui Ekspektasi

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 01 Juni 2026 | 17:58 WIB
Ekonom senior AMRO, Catharine Ho, dalam seminar di UGM (SinPo.id/ Dok. Humas UGM)
Ekonom senior AMRO, Catharine Ho, dalam seminar di UGM (SinPo.id/ Dok. Humas UGM)

SinPo.id - Ekonom senior The ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Catharine Ho, memprediksi kondisi ekonomi kawasan Asia Tenggara, China, Jepang, dan Korea Selatan atau ASEAN+3 pada 2026, diproyeksikan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi kawasan yang tetap mampu bertahan meskipun menghadapi tekanan akibat kebijakan tarif global. 

"Pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 tetap melampaui ekspektasi meskipun terjadi guncangan tarif. Kondisi ini didukung oleh rendahnya tarif efektif serta meningkatnya permintaan ekspor semikonduktor berbasis kecerdasan buatan," kata Catharine dalam Seminar on ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy, dikutip Senin, 1 Juni 2026. 

Menurut Catharine, kuatnya permintaan domestik juga menjadi penopang utama stabilitas ekonomi kawasan. Konsumsi masyarakat tetap terjaga di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang baik dan inflasi  relatif rendah. 

Selain itu, arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang terus meningkat, turut memperkuat pertumbuhan ekonomi ASEAN+3.

Ia juga menyoroti semakin eratnya hubungan perdagangan dan investasi antarnegara di kawasan ASEAN+3 yang mampu menjadi penyangga terhadap berbagai tekanan ekonomi global.

"Penguatan hubungan perdagangan dan investasi di kawasan ASEAN+3 menjadi bantalan penting dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal," tuturnya.

Kendati demikian, Catharine menilai, prospek ekonomi kawasan saat ini justru mengarah kepada penurunan keseimbangan. Hal ini disebabkan oleh kondisi di Timur Tengah yang tak kunjung menemukan titik stabil. Di mana harga energi tetap tinggi dan memberikan dampak global. 

Menurutnya, durasi konflik di Timur Tengah akan menentukan intensitas tekanan dan ketidakpastian kondisi ekonomi.

"Saat ini, berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, ekonomi dunia akan tumbuh 4 persen lebih lambat dan tren inflasi akan meningkat," ujarnya.

Catharine menjelaskan, saat ini hubungan ekonomi di kawasan ASEAN+3 mengalami perubahan besar. Jika dahulu kawasan ini dikenal sebagai "pabrik dunia" yang berfokus memproduksi barang untuk pasar global, kini pola tersebut mulai bergeser menjadi jaringan perdagangan dan produksi yang semakin terhubung di dalam kawasan sendiri.

Kemudian, rantai pasok di kawasan ASEAN+3, juga kini semakin terintegrasi. China berperan sebagai pusat produksi, Jepang dan Korea Selatan fokus pada komponen berteknologi tinggi, sementara negara-negara ASEAN berkembang sebagai basis manufaktur dan layanan digital bernilai menengah. 

"Hubungan ekonomi di kawasan tidak lagi sekadar berorientasi ke pasar global, tetapi semakin bertumpu pada kekuatan regional," ujarnya.

Menurutnya, posisi ASEAN+3 juga sangat penting bagi Indonesia. Karena kawasan ini masih menjadi mitra dagang terbesar sekaligus sumber permintaan utama bagi perekonomian nasional. 

Meski integrasi kawasan membawa banyak manfaat, seperti memperkuat ketahanan terhadap guncangan global dan meningkatkan produktivitas, Catharine mengingatkan bahwa kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan baru. 

"Semakin dalam integrasi kawasan, semakin besar pula risiko dampak krisis yang dapat menyebar antarnegara," jelasnya.

Oleh karenanya, negara-negara ASEAN perlu memperkuat kerja sama regional, menjaga fleksibilitas kebijakan ekonomi, serta mendorong peningkatan kualitas industri dan sumber daya manusia agar mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi global. 

Selain itu, ASEAN juga perlu memperkuat investasi intra-kawasan agar integrasi ekonomi regional dapat berjalan lebih dalam dan berkelanjutan. 

"ASEAN perlu mendorong investasi antarnegara di kawasan untuk memperkuat hubungan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang," ujarnya. 

Sementara itu, Ekonom UGM Denni Puspa Purbasari menyampaikan, kondisi perubahan ekonomi kawasan ASEAN saat ini bertumpu pada tantangan ekonomi yang sudah jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Perubahan yang terjadi bukan sekadar siklus kenaikan suku bunga atau harga komoditas, melainkan perubahan struktural yang lebih mendasar. 

"Dulu model ekonomi kita bertumpu pada globalisasi, inovasi, biaya produksi rendah, dan permintaan global yang relatif lebih stabil. Sekarang situasinya berbeda. Kita menghadapi fragmentasi, persaingan strategis antarnegara, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi," ujarnya.

Denni menjelaskan, tantangan ASEAN  bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi atau memperkuat ketahanan kawasan, tetapi menentukan model pembangunan yang tepat di tengah ketidakpastian global. 

Sebab, perubahan struktur ekonomi global turut memengaruhi pola permintaan pasar, termasuk di Indonesia. Apalagi, kebutuhan pasar semakin mengarah pada sektor-sektor tertentu sehingga membutuhkan strategi pembangunan yang lebih adaptif dan inklusif.

 "Yang kita butuhkan sekarang bukan hanya inklusivitas di tingkat kawasan ASEAN, tetapi juga di dalam Indonesia sendiri," kata Denni.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI