Israel Tembus Sungai Litani dan Kuasai Benteng Beaufort, Analis Khawatir Pendudukan Lebanon Meluas

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 01 Juni 2026 | 07:01 WIB
Serangan Israel di Lebanon. (SinPo.id/Al Jazeera)
Serangan Israel di Lebanon. (SinPo.id/Al Jazeera)

SinPo.id -  Pasukan Israel dilaporkan telah mencapai pinggiran Kota Nabatieh di Lebanon selatan dan berhasil menguasai Benteng Beaufort yang strategis, meski gencatan senjata antara kedua pihak masih berlaku sejak April 2026.

Perkembangan ini menjadi salah satu operasi militer terdalam yang dilakukan Israel di wilayah Lebanon dalam lebih dari 25 tahun terakhir. Sejumlah analis menilai langkah tersebut menunjukkan upaya Israel memperluas wilayah kendali militernya jauh melampaui Sungai Litani.

Saat ini, pasukan Israel disebut menguasai sekitar 2.000 kilometer persegi wilayah Lebanon atau hampir seperlima dari total luas negara tersebut.

Sebelumnya, Israel menyatakan operasi militernya bertujuan mengusir kelompok Hizbullah dari wilayah selatan Sungai Litani yang berbatasan langsung dengan Israel. Namun dalam perkembangan terbaru, pasukan Israel bergerak lebih jauh ke utara hingga mendekati Sungai Zahrani, sekitar 10 kilometer di utara Sungai Litani.

Militer Israel bahkan telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil hingga kawasan yang berada di selatan Sungai Zahrani.

Pasukan Israel dilaporkan telah mencapai wilayah Zawtar al-Sharqiyah dan Choukine yang berada di pinggiran Nabatieh, salah satu basis utama Hizbullah di Lebanon selatan.

Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan serangan udara Israel di Deir ez-Zahrani pada Minggu dini hari menyebabkan sejumlah korban jiwa.

Nabatieh Dinilai Punya Arti Strategis dan Politik

Profesor Hubungan Internasional dari Lebanese American University, Imad Salamey, mengatakan Nabatieh bukan hanya penting secara militer, tetapi juga memiliki arti politik dan sosial yang besar bagi komunitas Syiah di Lebanon.

"Nabatieh sangat penting karena bukan sekadar pusat militer. Kota ini merupakan salah satu pusat politik, ekonomi, dan sosial utama bagi komunitas Syiah Lebanon serta menjadi penghubung penting antara Lebanon selatan, Lembah Bekaa, dan Beirut."

Menurutnya, jika Israel menguasai Nabatieh, maka negara itu akan memperoleh kedalaman operasi militer yang lebih besar di luar Sungai Litani dan mampu menekan jaringan logistik maupun komando Hizbullah.

"Secara militer, penguasaan Nabatieh akan memberikan Israel ruang operasi yang lebih luas untuk menekan jaringan komando, logistik, dan pendukung Hizbullah di Lebanon selatan."

Namun dampak politiknya dinilai jauh lebih besar.

"Jika Israel bergerak menuju Nabatieh, hal itu menunjukkan bahwa tujuan mereka telah berkembang dari sekadar mendorong Hizbullah ke utara Sungai Litani menjadi kampanye yang lebih luas untuk membongkar seluruh infrastruktur wilayah dan komunitas Hizbullah."

Salamey menilai perpindahan penduduk dari Nabatieh dan Kota Tyre berpotensi mengubah peta demografi sekaligus melemahkan basis sosial Hizbullah di Lebanon selatan.

Analis Lebanon, Souhayb Jawhar, juga menyebut masuknya pasukan Israel ke Nabatieh akan menjadi titik balik besar dalam konflik.

"Jika Israel menguasai atau bahkan mengepung Nabatieh, itu akan menjadi perubahan besar karena perang tidak lagi terbatas di wilayah perbatasan, tetapi masuk ke jantung politik dan sosial Lebanon selatan."

"Hal ini akan memperluas gelombang pengungsian, melemahkan institusi negara di wilayah selatan, merusak citra Hizbullah sebagai pelindung komunitasnya, dan membuka jalan bagi realitas keamanan baru yang melampaui tujuan awal mengusir Hizbullah dari perbatasan."

Benteng Beaufort Kembali Jadi Titik Strategis

Di wilayah timur, pasukan Israel juga dilaporkan berhasil menguasai Benteng Beaufort, sebuah benteng peninggalan era Perang Salib yang berdiri di atas perbukitan strategis menghadap Lembah Sungai Litani.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan pasukan Brigade Golani telah menyeberangi Sungai Litani dan merebut kawasan tersebut.

Benteng Beaufort berjarak sekitar 15 kilometer dari perbatasan Israel dan memiliki posisi strategis untuk mengawasi sebagian besar wilayah Lebanon selatan.

Menurut Salamey, penguasaan benteng tersebut memberikan keuntungan militer dan simbolis bagi Israel.

"Penguasaan dataran tinggi Benteng Beaufort sangat penting karena memungkinkan pengawasan luas terhadap wilayah Lebanon selatan serta memberikan keunggulan dalam observasi dan pengendalian tembakan."

"Secara historis, lokasi ini menjadi simbol berbagai pertempuran besar antara Israel dengan kelompok Palestina dan kemudian Hizbullah, sehingga memiliki nilai militer sekaligus simbolik."

Israel Diduga Ingin Bentuk Zona Penyangga Baru

Perintah evakuasi yang kini meluas hingga Sungai Zahrani memunculkan pertanyaan mengenai tujuan jangka panjang Israel di Lebanon.

Menurut Salamey, apabila tujuan Israel hanya mengusir Hizbullah dari selatan Sungai Litani, maka operasi militer seharusnya tetap terbatas pada kawasan tersebut.

"Perluasan operasi militer dan perintah evakuasi lebih jauh ke utara bisa menjadi indikasi adanya upaya membentuk sabuk keamanan yang lebih dalam, menciptakan kondisi untuk penguasaan wilayah jangka panjang, atau memperoleh posisi tawar dalam pengaturan politik di masa depan."

Senada dengan itu, Jawhar menilai Israel kini tampaknya tidak hanya berupaya menjauhkan pasukan Hizbullah dari perbatasan.

"Perkembangan ini menunjukkan bahwa Israel tidak hanya ingin mendorong pejuang Hizbullah dan rudal jarak pendek menjauh dari perbatasan, tetapi juga menghancurkan infrastruktur militer, logistik, dan komando Hizbullah lebih jauh di Lebanon selatan."

"Dalam praktiknya, konsep zona keamanan tampaknya telah berkembang dari garis Sungai Litani menjadi zona penyangga yang lebih dalam hingga mendekati Sungai Zahrani, meskipun belum diumumkan secara resmi."

Pemerintah Lebanon Terancam Kehilangan Legitimasi

Profesor Hubungan Internasional dari University of Bristol, Filippo Dionigi, menilai operasi militer Israel justru berpotensi melemahkan pemerintah Lebanon yang tengah berupaya membangun stabilitas dan mencari solusi diplomatik.

"Jika Israel sepenuhnya mematuhi gencatan senjata, pemerintah Lebanon setidaknya dapat menunjukkan bahwa negosiasi yang mereka lakukan memberikan hasil yang menguntungkan bagi kepentingan nasional."

Namun kondisi yang terjadi saat ini justru sebaliknya.

"Israel terus menyerang Lebanon, melemahkan legitimasi pemerintah dan proses perundingan antara Lebanon dan Israel."

Menurut Dionigi, situasi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat posisi Hizbullah di mata masyarakat.

"Pada saat yang sama, kondisi ini justru memperkuat legitimasi aksi militer Hizbullah terhadap Israel."

BERITALAINNYA
BERITATERKINI