Trump Minta Revisi Kesepakatan dengan Iran, Negosiasi Damai dan Nuklir Berlanjut Pekan Ini
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sejumlah perubahan terhadap rancangan kesepakatan yang sedang dinegosiasikan dengan Iran, memperpanjang proses negosiasi yang sebelumnya disebut hampir mencapai tahap final.
Sejumlah pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump mengembalikan draf kesepakatan kepada tim perunding setelah menggelar pertemuan dengan para penasihatnya pada Jumat 29 Mei 2026. Langkah tersebut membuat pembahasan antara Washington dan Teheran berlanjut setidaknya hingga pekan depan.
Meski rincian perubahan yang diminta belum diungkapkan secara lengkap, sumber pemerintah AS menyebut Trump menginginkan bahasa yang lebih tegas terkait komitmen nuklir Iran dan jaminan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Seorang pejabat asing yang mengetahui jalannya negosiasi mengatakan perubahan tersebut tidak bersifat substansial dan lebih berfokus pada keinginan Amerika Serikat untuk memperoleh kepastian yang lebih kuat mengenai kedua isu tersebut.
Selain itu, Trump juga disebut menaruh perhatian terhadap bentuk keringanan ekonomi yang kemungkinan diberikan kepada Iran dalam kesepakatan tersebut. Ia dikabarkan tidak ingin kebijakan itu dibandingkan dengan kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama yang selama ini sering dikritiknya.
Belum Ada Keputusan Final
Pekan lalu Trump sempat menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran "hampir selesai" dan mengindikasikan berakhirnya konflik sudah semakin dekat.
Namun setelah pertemuan selama dua jam pada Jumat, belum ada keputusan final yang diumumkan.
Dalam unggahan di media sosial, Trump sebelumnya menyebut Amerika Serikat akan menyita dan menghancurkan persediaan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran.
Akan tetapi, Iran berulang kali menegaskan bahwa rincian program nuklirnya tidak sedang dibahas dalam negosiasi yang berlangsung saat ini.
Trump juga menyatakan tidak ada pembicaraan mengenai pemberian dana kepada Iran sebagai bagian dari kesepakatan. Pernyataan tersebut berbeda dengan posisi Teheran yang menyebut kompensasi ekonomi harus menjadi bagian dari setiap perjanjian yang dicapai.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi salah satu isu yang masih dibahas dalam proses negosiasi.
Iran Tegaskan Hak Nasional Harus Dijamin
Dari Teheran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang akan disetujui sebelum hak-hak Iran dijamin sepenuhnya.
“Para prajurit di medan diplomasi tidak mempercayai kata-kata dan janji musuh. Yang penting bagi kami adalah pencapaian nyata yang harus kami peroleh, sebagai imbalannya kami akan memenuhi komitmen kami,” kata Ghalibaf seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran masih bersikap hati-hati dalam merespons proposal yang diajukan Washington.
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama
Salah satu isu utama dalam perundingan adalah keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan energi global.
Senator Partai Demokrat dari Delaware, Chris Coons, mengatakan ketentuan yang diumumkan Trump terlihat dapat diterima di atas kertas, namun sulit diwujudkan dalam praktik.
“Sementara kita bisa menggunakan keunggulan teknologi kita untuk membom pabrik-pabrik besar di Iran, kita tidak akan mampu menghentikan mereka menggunakan ranjau untuk menutup Selat Hormuz dan drone mereka untuk menyerang kita serta sekutu kita,” kata Coons.
Sebagai respons terhadap ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, Trump telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan membersihkan jalur pelayaran dari ranjau laut.
Blokade tersebut masih berlangsung di tengah proses negosiasi.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengungkapkan bahwa pada Jumat lalu militer AS melumpuhkan kapal berbendera Gambia, M/V Lian Star, yang sedang menuju pelabuhan Iran di Teluk Oman setelah dianggap melanggar blokade.
Menurut CENTCOM, lebih dari 20 peringatan telah diberikan sebelum rudal ditembakkan ke ruang mesin kapal tersebut.
Insiden itu menjadi kapal komersial kelima yang dilumpuhkan sejak blokade diberlakukan. Selain itu, lebih dari 100 kapal lain dilaporkan telah dialihkan dari rute menuju Iran.
Di sisi lain, sumber yang mengetahui peristiwa tersebut mengungkapkan bahwa sebuah rudal balistik Iran berhasil dicegat pekan lalu di dekat Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Pecahan rudal menyebabkan beberapa personel pangkalan mengalami luka ringan.
Meski ketegangan masih tinggi, sejumlah pejabat Amerika Serikat menyebut kemungkinan serangan militer baru semakin kecil karena kedua pihak dinilai semakin dekat menuju kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.
