WHO Keluarkan Peringatan Keras, Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Menular Saat Merawat Orang Tercinta

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 01 Juni 2026 | 01:20 WIB
Ebola (pixabay)
Ebola (pixabay)

SinPo.id -  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius terkait wabah Ebola yang saat ini melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. WHO menegaskan bahwa penyakit mematikan tersebut memiliki pola penularan yang unik dan berbahaya karena sering terjadi saat seseorang merawat anggota keluarga atau kerabat yang sedang sakit.

Petugas Teknis WHO, Anaïs Legand, mengatakan wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo yang tergolong langka dan menyebar melalui kontak dekat dengan penderita.

“Ini adalah penyakit yang Anda dapatkan saat Anda merawat seseorang, baik itu suami, pasangan, anak, atau ibu Anda,” kata Anaïs Legand kepada para jurnalis di Jenewa, Swiss.

Menurut Legand, banyak kasus penularan terjadi karena dorongan emosional seseorang untuk membantu anggota keluarga yang menunjukkan gejala penyakit.

“Anda tertular saat ingin membantu seseorang yang bergejala, dan ini sangat mengerikan,” ujarnya.

Karena itu, WHO mengimbau keluarga dan kerabat pasien untuk tidak melakukan kontak fisik langsung dengan orang yang diduga terinfeksi Ebola dan segera menghubungi petugas kesehatan agar penanganan dapat dilakukan secara aman.

Tingkat Kematian Mencapai 50 Persen

WHO mencatat bahwa virus Ebola memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi. Berdasarkan pengalaman dari berbagai wabah sebelumnya, angka kematian akibat penyakit ini berkisar antara 30 hingga 50 persen.

“Angka itu sangat besar,” tegas Legand.

Meski demikian, WHO meyakini peluang kesembuhan pasien dapat meningkat apabila gejala dikenali lebih awal dan pasien segera mendapatkan perawatan medis yang tepat.

“Kita dapat meningkatkan perawatan intensif yang dioptimalkan. Kita juga bisa mendukung masyarakat untuk mengenali gejala lebih awal agar mendapatkan diagnosis dini, sehingga mereka bisa menerima tingkat perawatan yang dibutuhkan,” lanjutnya.

WHO menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran wabah. Baru-baru ini, seorang pasien di Republik Demokratik Kongo dilaporkan berhasil sembuh total dan dipulangkan dari rumah sakit setelah mendapatkan penanganan cepat.

WHO Uji Obat dan Vaksin Baru

Di tengah meningkatnya kasus Ebola, WHO bersama para ahli internasional terus mengevaluasi sejumlah kandidat obat dan vaksin yang berpotensi membantu menekan angka kematian.

Untuk pasien yang telah terkonfirmasi positif Ebola, tiga terapi yang diprioritaskan dalam uji klinis saat ini adalah antibodi monoklonal MBP 134, antibodi monoklonal maftivimab, dan obat antivirus remdesivir.

Sementara untuk pencegahan setelah seseorang terpapar virus, WHO sedang memprioritaskan studi terhadap obat antivirus oral obeldesivir.

Selain itu, dua kandidat vaksin baru juga telah disiapkan untuk menjalani evaluasi lebih lanjut begitu dosis tersedia di lapangan.

Konflik Bersenjata Hambat Penanganan

Meski dukungan medis internasional mulai berdatangan, WHO mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian wabah justru berasal dari kondisi keamanan di wilayah terdampak.

Wabah Ebola saat ini terjadi di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo. Kawasan tersebut diketahui menjadi lokasi lebih dari 1,2 juta warga yang membutuhkan bantuan kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan dan krisis pangan.

Legand mengungkapkan berbagai kendala logistik masih terus terjadi, mulai dari akses transportasi hingga ketersediaan bahan bakar untuk mendukung operasi kemanusiaan.

“Suatu hari saya mendapat telepon dari tim saya yang mengabarkan bahwa tidak ada bahan bakar,” ungkapnya.

Situasi tersebut mendorong Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, turun langsung ke Republik Demokratik Kongo untuk memantau penanganan wabah.

Tedros juga menyerukan gencatan senjata kepada kelompok-kelompok bersenjata di wilayah timur Kongo agar petugas kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan dan menghentikan penyebaran virus.

Lebih dari 125 Kasus Terkonfirmasi di Kongo

Pemerintah Republik Demokratik Kongo pertama kali melaporkan wabah virus Bundibugyo kepada WHO pada 15 Mei 2026.

Berdasarkan data terbaru hingga 28 Mei 2026, tercatat 125 kasus terkonfirmasi Ebola di Republik Demokratik Kongo dengan 17 korban jiwa yang tersebar di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.

Selain itu, terdapat 906 kasus suspek, termasuk lebih dari 223 kematian, yang masih dalam proses investigasi seiring peningkatan kapasitas pemeriksaan laboratorium.

Sementara di Uganda, tercatat tujuh kasus terkonfirmasi dengan satu korban jiwa.

Meski demikian, WHO menyatakan hingga saat ini belum ditemukan bukti adanya penularan Ebola di tingkat komunitas di Uganda.

WHO terus mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap gejala Ebola dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami tanda-tanda infeksi. Langkah deteksi dini dan penanganan cepat dinilai menjadi kunci utama untuk menekan penyebaran penyakit yang memiliki tingkat kematian tinggi tersebut.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI