Kebutuhan Welder Global Meningkat, Christina Minta Siapkan Pekerja Migran Terampil
SinPo.id - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani mengatakan, kebutuhan tenaga pengelasan (welder) menjadi salah satu sektor dengan permintaan tinggi di pasar kerja internasional. Karenanya, Indonesia perlu menyiapkan tenaga kerja terampil yang memiliki kompetensi dan sertifikasi sesuai standar internasional.
"Welder Indonesia harus mampu bersaing di pasar kerja internasional. Pelatihan yang diberikan harus benar-benar sesuai kebutuhan industri global," kata Christina saat kunjungan ke Balai Diklat Industri (BDI) milik Kemenperin, dikutip Jumat, 29 Mei 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Christina meninjau langsung pelatihan pengelasan yang tengah berlangsung di BDI Jakarta. Termasuk mengunjungi Pusat Pelatihan Kerja Khusus Pengembangan Las (PPKKPL) milik Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Disnakertransgi) milik DKI Jakarta.
Christina menyampaikan, menjadi fokus Kementerian P2MI untuk memastikan lulusan pelatihan welder di Indonesia dapat terserap di pasar kerja luar negeri.
Saat ini, terdapat 8 ribu kebutuhan welder di berbagai negara, seperti Qatar, Korsel, dan Jepang. Adapun kompetensi pengelasan yang dibutuhkan pasar global, mulai dari fillet welder, plate welder, pipe welder, welding inspector basic, underwater welder, hingga pengoperasian mesin.
Untuk itu, Christina mendorong agar kurikulum pelatihan pengelasan dapat dirancang adaptif terhadap kebutuhan industri luar negeri sehingga lulusan siap kerja sesaat setelah menyelesaikan pelatihan.
"Mungkin nantinya yang menjadi pertanyaan juga apakah memungkinkan mendesain kurikulum khusus yang menjadikan begitu mereka selesai, mereka bisa langsung ditempatkan sesuai kebutuhan pasar," ungkapnya.
Selain kompetensi teknis, Christina mengingatkan akan kemampuan bahasa asing yang menjadi faktor penting meningkatkan daya saing pekerja migran terampil.
Lebih lanjut, Christina juga menekankan pentingnya penguatan basis data alumni potensial, baik dari BDI Jakarta maupun PPKKPL Jakarta untuk ditingkatkan kompetensinya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja global.
Ia pun membuka peluang agar dua sekolah vokasi itu dilibatkan sebagai institusi penyedia pelatihan dalam program SMK Go Global gagasan Presiden Prabowo Subianto.
"Kita harus memastikan pelatihannya sesuai kebutuhan industri dan tidak terlalu lama, tetapi hasilnya benar-benar siap kerja dan siap ditempatkan," tandasnya.
