PPIH Siapkan Skema Khusus bagi Jemaah Lansia dan Disabilitas Saat Puncak Haji
SinPo.id - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan skema khusus bagi jemaah haji lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi saat pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Musyrif Diniyah PPIH Arab Saudi, Haris Muslim, mengatakan seluruh jemaah dengan kondisi khusus tetap wajib menjalani wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah karena merupakan rukun utama haji yang tidak dapat ditinggalkan.
“Dengan skema apa pun mereka tetap harus berada di Arafah agar hajinya sah,” kata Haris Muslim di Makkah, Minggu, 24 Mei 2026.
Menurut Haris, syariat Islam memberikan kemudahan bagi jemaah yang memiliki keterbatasan fisik maupun penyakit tertentu dalam menjalankan rangkaian ibadah haji lainnya.
Ia menjelaskan, dalam fikih terdapat kaidah bahwa kesulitan dapat mendatangkan kemudahan. Karena itu, jemaah lansia, disabilitas, maupun penderita penyakit berisiko tinggi diperbolehkan menyesuaikan pelaksanaan ibadah sesuai kondisi kesehatan mereka.
PPIH Arab Saudi menetapkan lima kategori jemaah uzur yang mendapatkan layanan khusus saat Armuzna, yakni jemaah dengan penyakit risiko tinggi, lansia, penyandang disabilitas, obesitas, dan pendamping mereka.
“Pendamping ini penting karena mereka membutuhkan bantuan selama proses ibadah di Armuzna,” ujarnya.
Skema Murur di Muzdalifah
Untuk pelaksanaan mabit di Muzdalifah, jemaah uzur akan menggunakan skema murur, yakni melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus.
Haris menjelaskan, bus khusus akan membawa jemaah dari Arafah melewati Muzdalifah menuju Mina. Skema tersebut berbeda dengan jemaah reguler yang turun dan bermalam di Muzdalifah.
“Kalau mereka turun justru membahayakan kondisi jemaah. Karena itu bus hanya melintas dan langsung menuju Mina,” katanya.
Menurut Haris, kebijakan tersebut diambil demi menjaga keselamatan jemaah mengingat tingginya kepadatan saat puncak haji.
Lontar Jumrah Bisa Dibadalkan
Selain mabit, pelaksanaan lontar jumrah bagi jemaah lansia dan disabilitas juga mendapat keringanan.
Sebagian jemaah diperbolehkan melakukan badal lontar jumrah atau penggabungan pelaksanaan lontar untuk beberapa hari sekaligus sesuai ketentuan fikih.
Ia menambahkan, penggunaan kursi roda di area Jamarat juga sangat terbatas karena faktor keselamatan dan kepadatan jemaah.
Imbau Jemaah Jaga Kesehatan
Haris Muslim mengingatkan jemaah lansia dan disabilitas untuk menjaga kondisi fisik menjelang puncak haji. Ia meminta jemaah mengatur ritme aktivitas dan memperbanyak kesabaran selama menjalani rangkaian ibadah.
“Yang paling penting sekarang menjaga kesehatan agar saat puncak haji tidak terlalu memberatkan bagi mereka sendiri,” ujarnya.
Ia berharap seluruh jemaah, termasuk lansia dan penyandang disabilitas, dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan memperoleh haji yang mabrur.
