Imam Tunanetra Asal Sinjai Terharu, Namanya Akan Diabadikan Jadi Masjid di Arab Saudi

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 24 Mei 2026 | 13:53 WIB
Saifuddin H M Abd Muin Saideng. (SinPo.id/foto: MCH)
Saifuddin H M Abd Muin Saideng. (SinPo.id/foto: MCH)

SinPo.id - Imam tunanetra asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Saifuddin HM Abd Muin Saideng, tak mampu membendung air mata haru saat mengetahui namanya akan diabadikan menjadi nama sebuah masjid di Arab Saudi.

Pria 56 tahun yang akrab disapa Baso Tang itu menangis di lobi hotel jemaah Indonesia di kawasan Jarwal, Mekah, setelah menerima kabar tersebut. Sejak malam itu, ia mengaku kerap kembali menitikkan air mata setiap selesai menunaikan salat wajib maupun salat tahajud.

“Saya selalu menangis kalau ingat itu," ujarnya, dikutip Minggu, 24 Mei 2026.

Baso Tang mengaku tak pernah membayangkan perjalanan hajinya tahun ini menghadirkan pengalaman yang begitu membekas. Ia datang ke Tanah Suci sebagai jemaah haji reguler Kloter UPG 17 bersama saudara kandung dan iparnya, sebagaimana ribuan jemaah Indonesia lainnya.

Peristiwa itu bermula ketika sejumlah warga Arab berada di lobi hotel sambil mencari seseorang yang dapat menjadi penerjemah.

Kisah tersebut disampaikan oleh pembimbing ibadah atau TPIH Kloter UPG 17 yang juga Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sinjai, Faried Wajdi.

Usai salat Isya, Faried bersama beberapa jemaah tengah menunggu lift di lobi hotel. Saat itu, sekelompok pria Arab tampak memperhatikan rombongan jemaah Indonesia sebelum akhirnya menanyakan apakah ada yang dapat berbahasa Arab.

“Ada teman yang tunjuk saya karena dia tahu saya alumni Kairo,” cerita Faried sambil tertawa kecil. “Saya bilang, itu sudah 20 tahun lalu, sedikit-sedikit saja saya tahu,” kata dia merendah.

Dari percakapan tersebut diketahui bahwa rombongan Arab itu merupakan bagian dari unsur kerajaan Saudi yang sedang mencari jemaah tertua laki-laki dan perempuan di hotel untuk diberikan penghormatan serta hadiah penyambutan.

Awalnya mereka hanya meminta dua orang jemaah lansia untuk diperkenalkan. Namun situasi berubah ketika Baso Tang memasuki area lobi hotel. Faried kemudian memperkenalkannya kepada rombongan tersebut.

“Saya bilang, ini juga jemaah kami. Beliau tunanetra dan imam masjid,” ujarnya.

Keterangan itu langsung menarik perhatian mereka. Baso Tang kemudian diminta maju dan membacakan ayat suci Al-Qur’an di hadapan para jemaah yang berada di lobi hotel.

Ia memilih melantunkan Surah Al-Ashr. Suasana lobi mendadak hening ketika suaranya terdengar pelan namun tenang. Sejumlah jemaah pun mulai mendekat untuk mendengarkan bacaan tersebut.

“Saya baca surah pendek saja karena sudah banyak orang berkerumun,” kata Baso Tang. "Takut lama," katanya kepada Tim Media Center Haji.

Faried mengatakan, rombongan Arab itu tampak terharu setelah mengetahui Baso Tang merupakan imam masjid yang telah mengabdi selama puluhan tahun meski mengalami kebutaan total.

Tak lama berselang, mereka menyampaikan niat untuk membangun sebuah masjid wakaf atas nama Saifuddin sebagai bentuk penghormatan kepada jemaah Indonesia.

Awalnya Faried mengira pembangunan masjid tersebut meminta partisipasi dana dari jemaah. Namun penjelasan yang disampaikan pihak Arab Saudi justru membuatnya semakin terkejut.

“Mereka bilang, uangnya dari pemerintah Arab Saudi. Sementara masjidnya atas nama beliau,” tutur Faried.

Masjid wakaf tersebut nantinya akan menggunakan nama Saifuddin atau Baso Tang sebagai simbol penghormatan bagi jemaah Indonesia. Meski lokasi pembangunannya belum diumumkan secara resmi, dalam pembicaraan awal disebutkan kemungkinan akan dibangun di Madinah.

“Mereka bilang nanti akan datang lagi sebelum kami pulang haji,” ujar Faried.

Pada malam yang sama, Baso Tang juga menerima hadiah berupa sejadah bersama beberapa jemaah lain yang terpilih.

Namun bagi dirinya, penghormatan terbesar bukanlah hadiah tersebut, melainkan kenyataan bahwa namanya akan diabadikan menjadi nama sebuah rumah ibadah di Tanah Suci.

“Saya tidak sangka bisa seperti ini,” katanya pelan.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI