Inovasi BRIN, Rapid Test DBD Bisa Deteksi Virus dalam 3 Menit

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 24 Mei 2026 | 10:13 WIB
Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (SinPo.id/Honesdocs)
Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (SinPo.id/Honesdocs)

SinPo.id - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Indonesia, terutama di daerah tropis seperti Tanah Air. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus ini kerap tidak terdeteksi sejak dini sehingga penderita datang dalam kondisi trombosit sudah turun drastis.

Gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri sendi sering dianggap sepele, padahal jika terlambat ditangani bisa berujung pada kematian. Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berinovasi menemukan solusi yang cepat, tepat, dan mudah digunakan oleh masyarakat.

Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Agustina Sus Andreani, mengembangkan kit pendeteksi DBD menggunakan nanopartikel emas. ia mengatakan, metode ini diklaim jauh lebih praktis dibandingkan pemeriksaan konvensional seperti RT-PCR yang memerlukan alat rumit dan mahal serta tenaga ahli kompeten. 

"Kami mengusulkan metode rapid test dengan nanopartikel emas sebagai biosensor karena sifatnya mudah disintesis, memiliki sifat optik unik, inert, dan biokompatibel," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa nanopartikel emas memiliki gelombang khas pada rentang 500–550 nanometer yang bisa berubah warna saat berinteraksi dengan virus,” Agustina dalam paparannya yang disampaikan dalam Webinar Jejak Kimia Molekuler #8, dikutip Minggu, 24 Mei 2026.

Ia melanjutkan, yang membuat metode ini unggul adalah target deteksinya, yakni protein NS1 yang muncul sejak hari pertama hingga hari ketiga setelah seseorang terinfeksi virus dengue. NS1 ini cocok sekali untuk rapid test karena bisa mendeteksi sejak awal terkena virus, berbeda dengan metode IGm dan IgG yang baru bisa dilakukan 3-5 hari setelah infeksi. 

Dengan deteksi dini, pasien bisa segera mendapatkan penanganan medis sehingga risiko kematian akibat DBD dapat ditekan secara signifikan. Peneliti BRIN pun membuat kit sensor dalam berbagai bentuk, mulai dari kit gel, kit kertas, kit film, hingga kit kain agar mudah digunakan di mana saja.

“Dari beberapa kit yang dikembangkan, sensor gel mencatatkan kinerja terbaik, bahkan lebih baik daripada sensor kertas. Sementara itu, sensor cair menjadi yang tercepat dalam hal waktu deteksi. Sensor gel itu saya buat seperti mencetak agar-agar menggunakan agarose, di mana nanopartikelnya berperan sebagai pelarut yang sudah dimodifikasi," Agustina mengungkapkan. 

Perubahan warna yang terjadi kemudian ditangkap menggunakan kamera smartphone dan diolah untuk mengetahui konsentrasi virus. Semakin tinggi konsentrasi NS1, berarti virus baru masuk ke tubuh, sebaliknya jika rendah artinya tubuh sudah mulai membentuk antibodi.

“Keunggulan lain dari kit ini adalah sifatnya yang point of care alias bisa dibawa ke mana-mana dan digunakan tanpa perlu tenaga ahli. Masyarakat cukup mengambil sampel darah, meneteskan ke kit, lalu mencocokkan perubahan warna dengan panduan yang ada di kemasan. Jika terjadi perubahan warna dari merah tua menjadi pink pudar, itu artinya positif DBD,” ujarnya. 

Hasilnya kemudian dikonfirmasi melalui aplikasi di smartphone untuk mengetahui konsentrasinya secara pasti. Dengan cara ini, pasien yang hasilnya positif dapat segera datang ke dokter untuk cek darah lengkap dan mendapatkan pengobatan dini.

Agustina mengatakan, DBD masih kerap menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai wilayah Indonesia. Dengan adanya kit ini, pasien yang mengalami gejala seperti demam dan pegal-pegal, dapat melakukan rapid test sendiri di rumah. Jika hasilnya positif, ia dapat segera menghubungi dokter sehingga angka kematian maupun keparahan gejala akut akibat DBD di tahap kedua bisa ditekan. Inovasi dari BRIN ini bermanfaat agar masyarakat Indonesia lebih waspada dan cepat bertindak dalam menghadapi ancaman demam berdarah.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI