PLN: Normalisasi PLTU Sumatera Butuh Waktu Panjang, Gangguan Berawal dari Cuaca di Jambi
SinPo.id - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menegaskan proses normalisasi sistem kelistrikan di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) membutuhkan waktu cukup panjang. Hal ini disampaikan usai gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan listrik padam di sebagian wilayah Sumatera, mulai dari Jambi, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh pada Jumat 22 Mei 2026 malam.
Menurut Darmawan, pembangkit listrik memiliki karakter berbeda. Pembangkit hydro dan gas dapat dinyalakan serta disinkronkan lebih cepat, berkisar 5–15 jam. Namun, untuk PLTU berbahan bakar batubara, prosesnya lebih lama karena harus melalui tahapan pemanasan air menjadi uap, penyalaan unit satu per satu, hingga penyambungan dan sinkronisasi ke sistem.
“Pembangkit-pembangkit yang bisa kami nyalakan dengan cepat, terutama hydro dan gas, sejak tadi malam langsung satu per satu secara sistematis kami aktifkan. Tetapi PLTU batubara membutuhkan waktu lebih panjang,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Darmawan menjelaskan sebagian sistem kelistrikan di Sumatera bagian selatan, tengah, hingga utara mulai berjalan normal. Beberapa PLTU sudah mulai start sejak pukul 03.00 dini hari, namun ada yang masih menunggu proses persiapan. Normalisasi penuh diperkirakan memakan waktu 15–20 jam.
Ia menambahkan, indikasi awal gangguan berasal dari cuaca di Jambi yang memicu gangguan pada ruas transmisi 275KV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai. Kondisi tersebut menimbulkan efek domino hingga menyebabkan oversupply di beberapa wilayah dan defisit di wilayah lain, sehingga pembangkit otomatis keluar dari sistem.
“Kami bekerja all out karena listrik adalah kebutuhan vital masyarakat, terutama di Pulau Sumatera,” tegas Darmawan.
