Ahli Epidemiologi Jelaskan Penularan Hantavirus Antar Manusia Terjadi Lewat Kontak Lama
SinPo.id - Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK UGM, dr. Riris Andono Ahmad mengungkapkan, hantavirus tergolong zoonosis dengan transmisi utama dari hewan pengerat. Namun, terdapat laporan khusus pada strain Andes yang memungkinkan penularan antarmanusia.
"Secara umum, tetap zoonosis. Yang menjadi strain Andes itu human to human karena itu bisa menyebabkan pulmonary disease di paru-paru. Karena paru-paru itu organ pernapasan kita, maka bisa menyebar melalui droplet. Tetapi hal itu bukanlah yang utama karena itu butuh kontak erat yang lama," kata Riris dalam keterangannya, Kamis, 14 Mei 2026.
Riris memaparkan, hantavirus strain Andes dominan hidup di kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Virus ini diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru-paru yang berpotensi fatal. Adapun hantavirus strain Andes ini menjadi perhatian dunia setelah munculnya wabah pada kapal pesiar beberapa waktu lalu.
Dia menerangkan, berbeda dari sebagian besar hantavirus lainnya, strain Andes memiliki kemampuan menular antar manusia dengan masa inkubasi berkisar antara 4 hingga 42 hari.
"Penyebab dari hantavirus adalah strain Andes yang berasal dari daerah Amerika Selatan, Pegunungan Andes. Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antar manusia," ujarnya.
Riris mengatakan, wabah pada kapal pesiar, melibatkan delapan kasus infeksi yang terdiri dari enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus tersangka. Terdapat tiga korban meninggal dunia dari total 147 penumpang dan awak kapal. Negara-negara terdampak meliputi Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina.
Menurut Riris, penularan hantavirus terjadi melalui dua jalur, yakni primer dan sekunder. Jalur primer berasal dari kontak manusia dengan tikus, termasuk melalui kotoran, urin, maupun gigitan tikus. Sementara pada strain Andes, penularan sekunder dapat terjadi antarmanusia melalui droplet atau percikan cairan tubuh.
Namun, mekanisme penularannya tidak semudah COVID-19 karena membutuhkan kontak erat dan berlangsung lama dengan penderita.
"Kalau strain Andes, kumannya bisa ditularkan melalui droplet, tetapi tidak semudah COVID karena harus memiliki kontak yang erat dan lama," paparnya.
Lebih lanjut, Riris menyampaikan langkah pencegahan, meliputi penggunaan alat pelindung diri (APD), menjaga kebersihan tangan, serta menjaga jarak dari individu yang terinfeksi. Upaya ini penting terutama bagi tenaga kesehatan maupun individu yang berada di wilayah dengan risiko paparan tikus tinggi.
Selain itu, WHO juga telah melakukan asesmen terhadap kasus tersebut dan menyimpulkan risiko pandemi global masih rendah. Hal ini disebabkan penyebaran virus sejauh ini masih terbatas pada penumpang kapal pesiar dan dapat dikendalikan melalui isolasi serta pelacakan kontak secara cepat.
"Hasil asesmen WHO menunjukkan risiko pandemi itu rendah karena kontak dengan penderita harus dekat dan dalam jangka waktu yang lama. Penularannya juga bisa langsung dihentikan di kapal," katanya.
Selain faktor pola penularan yang terbatas, respons internasional yang cepat juga menjadi alasan mengapa wabah dinilai masih terkendali. Berbagai lembaga kesehatan internasional telah melakukan koordinasi untuk proses isolasi pasien, karantina, hingga pelacakan kontak lintas negara.
Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit dalam dari RSUP Sardjito, dr. Alindina Anjani, memaparkan berbagai aspek terkait hantavirus, mulai dari epidemiologi, mekanisme penularan, patogenesis, hingga manifestasi klinis penyakitnya.
Alindina menjelaskan, hantavirus merupakan virus RNA yang termasuk kelompok zoonosis dan ditularkan terutama melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Penularan ke manusia terjadi melalui kontak dengan urin, feses, air liur, maupun aerosol dari ekskresi tikus yang terinfeksi.
Karenanya, keberadaan tikus menjadi faktor penting dalam rantai penularan penyakit. "Kalau tidak ada tikusnya, kemungkinan tidak ada penularan ke manusia seperti ini. Yang berisiko terkena tentunya yang selalu berinteraksi dengan tikus," jelasnya.
Ia menerangkan, kelompok yang rentan terpapar hantavirus antara lain pekerja gudang, petani, pekerja kehutanan, hingga individu yang sering melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah. Risiko juga meningkat pada lingkungan dengan sanitasi buruk atau area yang mengalami infestasi tikus.
Secara umum terdapat dua sindrom utama akibat infeksi hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). HPS lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara dan Selatan, sedangkan HFRS dominan di Asia dan Eropa.
Menurutnya, kedua sindrom tersebut memiliki reservoir dan karakteristik virus yang berbeda. Pada HPS, reservoir utama berasal dari rodensia liar di kawasan Amerika seperti deer mouse, sementara HFRS lebih banyak ditularkan melalui tikus rumah, tikus sawah, maupun vole yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.
"Yang terjadi di kapal pesiar itu adalah HPS dan yang populer di Asia adalah HFRS. Karena keduanya berbeda, maka reservoir-nya juga berbeda, jenis tikusnya juga berbeda, tetapi cara penularannya hampir sama," ujarnya.
Dia menambahkan, penularan hantavirus pada umumnya terjadi melalui inhalasi aerosol yang mengandung partikel virus dari urin, feses, atau saliva tikus. Dan, penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, khususnya pada HFRS yang hingga kini belum menunjukkan transmisi manusia ke manusia secara signifikan.
Menurut Alindina, HPS terutama menyerang paru dan sistem kardiovaskular. Kondisi ini kemudian memicu sesak napas progresif, hipoksia, hingga gagal napas berat dan syok. Perjalanan penyakit HPS terdiri atas beberapa fase, mulai dari fase prodromal dengan gejala demam, malaise, mialgia, mual, dan muntah, kemudian berkembang ke fase kardiopulmoner yang ditandai gangguan pernapasan berat.
Pada pemeriksaan laboratorium biasanya ditemukan trombositopenia, hemokonsentrasi, dan leukositosis. Sementara pada HFRS, organ target utama adalah ginjal dan endotel vaskular. Kerusakan vaskular akibat infeksi menyebabkan kebocoran kapiler serta gangguan fungsi ginjal yang memunculkan manifestasi berupa demam tinggi, hipotensi, oliguria, proteinuria, hematuria, hingga perdarahan.
Selain gejala klinis, ia juga memaparkan perbedaan karakteristik kedua sindrom tersebut. HPS cenderung memiliki mortalitas lebih tinggi dengan angka kematian mencapai sekitar 30-40 persen akibat gagal napas dan syok. Sebaliknya, tingkat keparahan HFRS lebih bervariasi tergantung jenis virus penyebabnya, seperti Hantaan, Seoul, Puumala, maupun Dobrava virus.
Alindina juga menekankan bahwa manifestasi HFRS kerap menyerupai berbagai penyakit infeksi tropis lain sehingga perlu perhatian khusus dalam diagnosis banding. Penyakit yang perlu dipertimbangkan antara lain demam berdarah dengue, leptospirosis, malaria, disseminated intravascular coagulation (DIC), hemolytic uremic syndrome, sepsis, hingga scrub typhus.
Menurutnya, kemiripan gejala tersebut dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis apabila tenaga kesehatan tidak memiliki kewaspadaan terhadap kemungkinan infeksi hantavirus, terutama pada pasien dengan riwayat paparan tikus atau lingkungan berisiko.
"Masyarakat diimbau untuk mengenali, melaporkan, dan mencegah penularan bersama agar dapat bahu-membahu menjaga kesehatan lingkungan dan memutus rantai penyebaran Hantavirus," tukasnya.
