Kemenag Potong Anggaran Perjalanan Dinas Pegawai hingga 70 Persen

Laporan: Tio Pirnando
Selasa, 07 April 2026 | 19:55 WIB
Gedung Kementerian Agama RI (SinPo.id/ Dok. Kemenag)
Gedung Kementerian Agama RI (SinPo.id/ Dok. Kemenag)

SinPo.id - Kementerian Agama (Kemenag) melakukan pemotongan hingga 70 persen anggaran pada akun belanja pegawai, demi menjaga program prioritas tetap berjalan. Hal ini sebagai terobosan dalam merespons tantangan keterbatasan anggaran untuk program 2026. 

"Kami melakukan pemotongan signifikan pada pos perjalanan dinas luar negeri hingga 70 persen dan perjalanan dinas biasa sebesar 65 persen. Anggaran hasil penghematan ini dialihkan untuk menjaga agar fungsi layanan dasar tidak terganggu," kata Kepala Biro Perencanaan pada Setjen Kemenag, Kastolan, di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Langkah Kastolan sejalan dengan arahan Menag Nasaruddin Umar. Dalam arahannya, Nasaruddin meminta seluruh jajaran Kemenag untuk melakukan transformasi fundamental dalam pola pikir perencanaan program. 

Menurut dia, keterbatasan anggaran negara tidak boleh menjadi penghalang bagi instansi untuk memberikan solusi nyata atas berbagai problem keagamaan yang dihadapi masyarakat saat ini.

"Perencanaan kita ke depan, saya minta tolong berpikirlah out of the box. Acuan kita ke depan adalah tantangan, jangan hanya terpaku pada anggaran yang kita miliki. Kalau anggaran terbatas, cari alternatif," kata Nasaruddin. 

Di tengah tantangan fiskal yang cukup berat pada 2026, jajaran Kemenag diminta melakukan penajaman terhadap sejumlah program prioritas. Tujuanny untuk memastikan layanan keagamaan dan pendidikan tetap menyentuh akar rumput. 

Nasaruddin menegaskan, penajaman program dapat dilakukan dengan menyatukan gerak antara Direktorat Jenderal, Kanwil Kemenag Provinsi, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). 

"Mari kita bekerja sebagai Super Team, bukan Superman. Saya mohon Rektor dan Kakanwil berkolaborasi. Jangan hanya bertemu saat seremoni. Gunakan mahasiswa KKN/PKN untuk membantu program Bimas, misalnya memberantas buta huruf Al-Qur'an di desa atau mencegah pernikahan bawah tangan. Integrasikan program penyuluh, imam masjid, dan KUA secara holistik, komprehensif, dan integratif. Ajuan kita ke depan adalah tantangan, jangan hanya terpaku pada anggaran yang kita miliki," tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI