AMREI Gelar Pelatihan Nasional untuk Perkuat Budaya Sadar Risiko di Sektor Energi
SinPo.id - Asosiasi Manajemen Risiko Energi Indonesia (AMREI) menggelar pelatihan nasional bertema budaya sadar risiko (risk culture) dan manajemen risiko pembangunan nasional di Jakarta, Rabu, 1 April 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesadaran lintas sektor dalam menghadapi potensi krisis energi yang berdampak luas terhadap fiskal dan stabilitas pembangunan.
Sekretaris Jenderal AMREI, Mohamad Soleh, mengatakan penguatan budaya sadar risiko menjadi penting di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Menurutnya, sektor energi memiliki risiko strategis yang dapat memicu krisis jika tidak dikelola dengan baik.
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak berpotensi menekan fiskal negara serta menimbulkan guncangan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Karena itu, setiap institusi dinilai perlu memiliki kesadaran risiko agar potensi gangguan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Pelatihan ini melibatkan peserta dari berbagai unsur, termasuk kementerian, lembaga negara, badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), serta sektor pendukung energi. Dalam pelaksanaannya, AMREI menggunakan metode interaktif berupa board game untuk membantu peserta memahami dampak dari setiap keputusan terkait risiko.
Soleh menilai pendekatan tersebut efektif karena mendorong peserta berbagi pengalaman dan memahami konsekuensi risiko secara langsung, sehingga memperkuat komitmen dalam menerapkan budaya sadar risiko.
Selain itu, AMREI juga mendorong implementasi manajemen risiko pembangunan nasional secara sistemik. Kerangka regulasi telah tersedia melalui Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2023 tentang Manajemen Risiko Pembangunan Nasional serta Peraturan Menteri PPN Nomor 11 Tahun 2024 yang mengatur kolaborasi lintas sektor.
Ketua Umum AMREI, Rifky Assamady, menambahkan pihaknya tengah menyusun policy brief yang akan disampaikan kepada kementerian dan lembaga terkait sebagai rekomendasi penguatan tata kelola risiko, khususnya di sektor energi.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran bersama melalui prinsip sense of belonging dan sense of crisis di setiap individu. Menurutnya, pendekatan manajemen risiko dapat membantu menentukan prioritas program secara efisien, terutama dalam kondisi keterbatasan anggaran.
AMREI juga berencana menggandeng perguruan tinggi untuk memperkenalkan manajemen risiko kepada mahasiswa sebagai bekal sebelum memasuki dunia kerja. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat budaya pengelolaan risiko secara berkelanjutan dalam menjaga ketahanan energi dan stabilitas pembangunan nasional.
