Alex Dorong Pemerintah Buat Peta Jalan Ekspor Beras Produksi Petani Dalam Negeri
SinPo.id - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman meminta pemerintah mulai merumuskan peta jalan ekspor beras produksi petani dalam negeri, seiring berlimpahnya stok beras yang mencapai angka 3,53 juta ton di akhir Desember 2025.
Fenomena tantangan program swasembada beras itu disampaikan Alex saat bersilaturahmi bersama Penyuluh Pertanian se-Sumatra Barat, di UNP Hotel & Convention, Sabtu sore, 7 Maret 2026.
"Tantangan kita hari ini, menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya, dalam merebut potensi pasar global," kata Alex dalam keterangannya, Jakarta, Minggu, 8 Maret 2026.
Ikut hadir di momen yang disertai agenda buka puasa Ramadan 1447 H/2026 M itu, perwakilan penyuluh dari sejumlah daerah di Sumbar. Juga hadir, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) di Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti berserta jajaran.
Alex menjelaskan untuk faktor menurunkan biaya produksi, petani inovatif dari Sumatra Barat, Ir Djoni, telah menemukan metode Sawah Pokok Murah.
Dengan metode yang telah diujicobakan ke seluruh kabupaten/kota di Sumbar ini, hasil panen tidak kalah dengan metode konvensional. Padahal, metode ini tidak melalui pengolahan tanah yang merupakan komponen biaya terbesar dalam bercocok tanam.
Kemudian, metode ini juga tak butuh pemupukan kimia serta penyemprotan pestisida maupun fungsida. Bahkan, cuaca kemarau juga tak terlalu jadi rintangan. Sehingga, makin memperkecil potensi gagal panen karena faktor cuaca.
"Walaupun topografi daerahnya perbukitan sehingga tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumatera Barat ini sudah mampu swasembada beras sejak lama," kata Alex yang juga Ketua PDI Perjuangan Sumatra Barat.
"Dengan adanya inovasi Sawah Pokok Murah yang telah dilaksanakan secara massif di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan dan Dharmasraya, biaya produksi sudah bisa dipastikan akan jauh berkurang jika dibandingkan dengan metode konvensional sebagaimana telah diterapkan petani selama ini," kata Alex.
Tersisa, cara mengatasi persoalan angka patahan (broken) ataupun menir (pecahan kecil) beras. Menurut Alex, masalah ini memerlukan campur tangan pemerintah melalui BRIN dan dunia perguruan tinggi melalui riset-riset berkelanjutan.
"Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), mengandung patahan (broken) atau menir (pecahan kecil) berada di angka 25-40 persen. Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar broken-nya telah berada di angka 5 persen," kata Alex.
"Jika kondisi ini tak segera diatasi, pasar beras global akan sangat sulit ditembus," kata Alex yang juga Ketua Panja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI.
Jika pasar global tak bisa ditembus, kata Alex, program swasembada pangan yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, akan menghadapi kendala cukup pelik.
"Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi, baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu nantinya. Ini tantangan yang harus segera dijawab," tegas Alex.
