Kemenkes Ingatkan Risiko Konsumsi Gula, Garam dan Lemak Berlebih
SinPo.id - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan pentingnya pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), termasuk asam lemak trans, sebagai upaya mencegah meningkatnya penyakit tidak menular (PTM).
Penegasan ini disampaikan Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, dalam Webinar Hari Gizi Nasional bertema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal" pada Kamis, 5 Februari 2026, kemarin.
Siti Nadia mengatakan pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia masih belum seimbang. Dia menyebut, konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan berkontribusi terhadap meningkatnya kasus diabetes, hipertensi, dan kelebihan berat badan.
Siti Nadia menyatakan, kondisi tersebut menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke, yang merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
“Pola konsumsi kita masih menunjukkan tingginya konsumsi pangan berisiko, yaitu gula, garam, dan lemak. Di daerah perkotaan, konsumsi gula, garam, dan lemak cenderung lebih tinggi, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan daerah pedesaan dan cenderung melebihi batas yang dianjurkan,” kata Siti Nadia dalam keterangan resminya, Jumat, 6 Februari 2026.
Dia menuturkan, tema Hari Gizi Nasional 2026 relevan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya mengonsumsi pangan yang beragam serta membatasi asupan GGL guna mencapai gizi seimbang.
"Kementerian Kesehatan merekomendasikan batas konsumsi harian gula maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan, garam maksimal 5 gram atau sekitar satu sendok teh, serta lemak maksimal 67 gram atau setara lima sendok makan," tuturnya.
Untuk mendukung pengendalian konsumsi GGL dan asam lemak trans, kata Siti Nadia, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Global Health Strategies melakukan kajian kebijakan terkait pengendalian konsumsi garam dan asam lemak trans di Indonesia.
"Kajian tersebut merekomendasikan sejumlah kebijakan strategis guna menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat, termasuk pengendalian asam lemak trans," ungkap Siti Nadia.
Lebih jauh, dia juga menjelaskan terdapat dua pendekatan kebijakan yang telah terbukti efektif di berbagai negara. Pendekatan pertama, kata Siti Nadia, pembatasan kandungan asam lemak trans maksimal dua persen pada seluruh produk pangan, seperti yang diterapkan di India.
"Pendekatan kedua adalah pelarangan penggunaan minyak terhidrogenasi parsial sebagai sumber utama asam lemak trans, sebagaimana dilakukan Singapura yang berhasil menurunkan asupan lemak trans masyarakat hingga 50 persen," ucapnya.
Menurutnya, penerapan kebijakan tersebut dapat memberikan perlindungan kesehatan yang signifikan karena asam lemak trans tidak memiliki manfaat bagi tubuh dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
“Kajian ini menemukan bahwa apabila kita dapat menyeleraskan kebijakan pengendalian asam lemak trans dengan rekomendasi kebijakan global, kita bisa mencegah 310 ribu kematian dan 580 ribu penyakit jantung,” ujar Siti Nadia.
Dia menambahkan pemerintah akan menempuh sejumlah langkah lanjutan, antara lain penetapan batas maksimum GGL, penguatan kebijakan pelabelan pangan, serta mendorong reformulasi produk makanan dan minuman bersama negara lain.
Siti Nadia pun berharap, momentum Hari Gizi Nasional juga dimanfaatkan untuk memperkuat kampanye perubahan perilaku masyarakat melalui gerakan Sehat Dimulai dari Piringku.
“Melalui kampanye ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih sadar memilih pangan, mengatur porsi, dan mengutamakan gizi seimbang dari pangan lokal demi masa depan yang lebih sehat,” tandasnya.

