Luncurkan Migrant Center UI, Mukhtarudin: Supaya PMI Berangkat dengan Skill, Pulang Sejahtera
SinPo.id - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin, resmi meluncurkan Migrant Center Universitas Indonesia (UI), sebagai upaya membangun ekosistem penyediaan tenaga kerja yang tak hanya terampil, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar global.
"Kita sedang membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Melalui kemitraan dengan UI sebagai pusat keunggulan dan Pemerintah Kota Depok serta Sukabumi sebagai basis wilayah, kita memastikan setiap pekerja migran berangkat memiliki kompetensi dan pulang dengan kesejahteraan yang berkelanjutan," ujar Mukhtarudin dalam peluncuran sekalian Penandangan Nota Kesepahaman (MoU) empat pihak yang strategis di Kampus UI, Depok, Senin, 2 Februari 2026.
Mukhtarudin menegaskan, kolaborasi ini adalah perwujudan dari paradigma baru tata kelola pekerja migran. Fokus utamanya adalah transformasi dari tidak sekadar hanya menempatkan pekerja migran domestik (lower skill) tetapi juga pekerja migran indonesia yang midle - hight skill yang terlindungi secara menyeluruh.
Adapun poin-poin strategis kemitraan yakni menjadi pusat inovasi, riset, dan pusat pelatihan yang menjembatani standar akademik dengan kebutuhan industri global, menjamin PMI memiliki sertifikasi dan keahlian yang diakui dunia internasional.
Menurut Mukhtarudin, kehadiran Migrant Center di kampus, merupakan bukti nyata partisipasi aktif dunia pendidikan dalam memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar kerja internasional.
"Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, kita sedang menjalankan pergeseran paradigma besar dalam tata kelola pekerja migran. Kita tidak lagi hanya menempatkan tenaga kerja, tetapi menyediakan skilled workers dengan kualifikasi medium-high skill. Inilah jalan menuju kemandirian dan martabat bangsa di mata dunia," tegasnya.
Mukhtarudin menilai, peran perguruan tinggi seperti UI, sangat krusial dalam mencetak tenaga kerja yang mampu bersaing secara global. Melalui Migrant Center, diharapkan tercipta standarisasi kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri modern di luar negeri.
"Keterlibatan UI, Pemkot Depok, dan Pemkot Sukabumi menandai lahirnya ekosistem baru. Kampus menjadi motor penggerak riset dan pelatihan, sementara pemerintah daerah menjadi garda terdepan dalam penyiapan warga. Ini adalah kerja keroyokan untuk memastikan perlindungan dari sebelum berangkat hingga kembali ke tanah air," ucapnya.
Mukhtarudin menggarisbawahi tiga poin kolaborasi utama, MoU dengan Universitas Indonesia yakni pembentukan Migrant Center sebagai pusat kajian, pelatihan, dan advokasi berbasis riset untuk memastikan pekerja migran Indonesia memiliki daya saing global.
Sementara, MoU dengan Wali Kota Depok yakni penguatan basis data dan perlindungan keluarga pekerja migran di wilayah penyangga ibu kota. Sedangkan, MoU dengan Walikota Sukabumi guna untuk mengoptimalisasi kantong-kantong pemberangkatan pekerja migran melalui edukasi dan pengawasan yang lebih ketat di tingkat lokal.
"Selaras dengan tema UI Unggul Impactful, pembentukan Migrant Center ini adalah bukti nyata 'Akselerasi Dampak'. Kita ingin riset UI tidak hanya berhenti di perpustakaan, tapi menjadi fondasi mandiri bagi perlindungan pekerja kita," ucapnya.
Mukhtarudin berharap, kolaborasi antara kementerian, UI, serta Pemerintah Kota Depok dan Sukabumi, dapat menjadi pilot project bagi daerah lain.
"Semoga UI terus menjadi motor penggerak pembangunan Indonesia yang inklusif. Dengan adanya Migrant Center dan dukungan para Walikota, kita menciptakan ekosistem pelindungan yang utuh dari hulu hingga hilir," beber Mukhtarudin.
