Home /

Mendag Dorong Inklusivitas APEC dalam Merespons Tantangan Ekonomi Global

Laporan: Tio Pirnando
Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:22 WIB
Mendag RI Budi Santoso pada acara KTT APEC di Korea Selatan. (SinPo.id/dok. Kemendag)
Mendag RI Budi Santoso pada acara KTT APEC di Korea Selatan. (SinPo.id/dok. Kemendag)

SinPo.id - Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso, mendorong organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) untuk terus menjunjung prinsip inklusivitas dalam merespons tantangan ekonomi global. Hal ini penting guna memastikan semua Ekonomi APEC terus berkembang bersama-sama tanpa ada yang tertinggal. 

"Kita perlu mengatasi tantangan seperti ketimpangan akses, kesenjangan infrastruktur, dan kebutuhan tata kelola data yang baik. Kita juga perlu memperkuat kerja sama dan konektivitas serta memastikan tidak ada ekonomi yang tertinggal," kata Budi dalam pertemuan Tingkat Menteri APEC di Gyeongju, Korea Selatan, dikutip Sabtu, 31 Oktober 2025. 

Agenda ini merupakan rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC Economic Leaders Week) pada 29 Oktober-1 November 2025.

Budi menegaskan, berbagai strategi untuk memastikan APEC tetap relevan dalam ekonomi global, harus terus diiringi dengan upaya mengatasi kesenjangan antarekonomi.

"Upaya untuk menjembatani kesenjangan pembangunan harus tetap menjadi prioritas bersama investasi pada infrastruktur digital, pembangunan kapasitas, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja," paparnya 

Selain itu, pertumbuhan ekonomi global yang berangsur pulih tetap dihadapkan pada tantangan seperti ketegangan geopolitik, perubahan iklim, serta fragmentasi rantai pasok. 

Kendati demikian, tantangan dalam pertumbuhan ekonomi juga membawa peluang transformasi yang dapat dimanfaatkan semua Ekonomi APEC. 

"Kita dapat memanfaatkan momentum ini untuk berinvestasi pada industri hilir, memperkuat ekonomi hijau, serta memanfaatkan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI). Pendekatan APEC terhadap AI harus bersifat inklusif dan hati-hati dengan mempertimbangkan perbedaan kondisi serta tingkat kesiapan Ekonomi APEC," kata Budi 

Budi juga menyampaikan sikap Indonesia terkait risiko kian meningkatnya fragmentasi rantai pasok yang mengubah tatanan perdagangan global. Indonesia konsisten mendukung peran Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai pilar utama perdagangan multilateral yang berbasis pada aturan (rules-based).

Indonesia pun mendukung berbagai upaya kolektif untuk memulihkan sistem penyelesaian sengketa dengan cara menggerakkan kembali badan banding WTO.

"Kredibilitas WTO bertumpu pada pemeliharaan dialog yang terbuka, kepastian aturan, dan kepercayaan antaranggota. Konsensus tetaplah menjadi elemen penting bagi legitimasi dan inklusivitas WTO. Sementaraitu, inisiatif plurilateral yang terbuka dan inklusif harus bersifat melengkapi multilateralisme, bukan menggantikannya," tegasnya. 

Untuk itu, Indonesia mendukung peran kepemimpinan APEC dalam memperkuat multilateralisme. Termasuk siap mewujudkan kerja sama multilateral yang seimbang dan substantif melalui Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-14 WTO di Kamerun pada 2026 mendatang.

"Indonesia juga mendorong agar pembahasan yang telah dimulai sejak KTM ke-13 terus dilanjutkan, termasuk di bidang pertanian, subsidi perikanan, niaga elektronik (e-commerce), dan reformasi WTO," pungkasnya. 

Sebagai informasi, total perdagangan Indonesia dengan APEC pada 2024 mencapai US$ 380,04 miliar. Ekspor Indonesia ke APEC tercatat sebesar US$ 195,01 miliar, sedangkan impor Indonesia dari APEC sebesar US$ 185,04 miliar. Indonesia mencatatkan surplus terhadap APEC sebesar US$9,97 miliar.

Produk-produk unggulan ekspor Indonesia ke kawasan APEC, antara lain, besi dan baja, mesin kelistrikan, minyak nabati dan hewani, nikel dan turunannya, dan kendaraan. Di sisi lain, mayoritas impor Indonesia dari kawasan APEC mencakup mesin dan peralatan mekanis, mesin kelistrikan, plastik, besi dan baja, serta kendaraan

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI